INILAH.COM, Teheran - Ketegangan politik paska pilpres 12 Juni lalu masih mewarnai Iran. Pemerintah negara itu masih saja menuding kekuatan Barat sebagai biang kerok kerusuhan antipemerintah itu.
"Mereka (Barat) kesal jika Iran stabil, tenang, dan aman," kata Menteri Intelijen Iran, Gholam-Hosein Mohseni Ejei, kepada Press TV, Senin (29/6). Pemerintah negara tersebut dikabarkan makin ganas dalam menghadapi para pengunjuk rasa.
Ejei mengaku memiliki bukti kasar mengenai kekuatan negara Barat yang dipimpin oleh AS, menggerakkan para pengunjuk rasa itu. Peran terbesar dalam kerusuhan itu, menurutnya, adalah Inggris. Baik melalui media maupun dari masyarakat lokal.
"Pihak kedubes Inggris diam-diam menutupi beberapa pekerja lokal mereka yang mengirimkan orang ke jalan untuk menebarkan kekacauan. Bukti keterlibatan mereka itu terlihat jelas di foto dan rekaman video," lanjut Ejei.
Satuan keamanan pemerintah menahan para pengunujuk rasa yang terluka di rumah sakit. Mereka bahkan menahan sembilan staf Kedubes Inggris di Teheran. Tindakan ini dikecam oleh Menlu Inggris David Miliband serta membuat hubungan kedua negara makin tegang.
Ejei mengatakan telah membebaskan beberapa dari staf yang ia ditahan. Pekan lalu, Teheran mengusir dua diplomat Inggris yang langsung dibalas London dengan pengusiran dua diplomat Iran. Iran telah lama menuding Inggris ikut campur masalah dalam negeri mereka. [vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !