INILAH.COM, Jakarta Inflasi sepanjang Juni 2009 diprediksikan masih rendah 0,3% hingga 0,5%. Angka ini dinilai mencerminkan resesi masih mengalami pendalaman terefleksi dengan rendahnya daya beli. Akibatnya, harga-harga tertekan selama bulan ini.
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Erani Yustika memperkirakan inflasi selama Juni 2009 pada kisaran 0,3% hingga 0,5%. Pasalnya, telah terjadi beberapa kenaikan harga setelah musim liburan.
Menurutnya, transportasi, perhotelan, beberapa komoditas tertentu, dan konstruksi yang mulai merangkak naik ikut mendongkrak inflasi bulan ini. Sektor-sektor itu yang berkontribusi cukup besar dalam pembentukan inflasi Juni ini, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Sedangkan inflasi selama semester I 2009, diprediksikan Erani masih rendah dan belum mencapai kisaran 2%. Inflasi yang sangat rendah, mencerminkan kegiatan ekonomi belum bisa pulih, paparnya.
Menurutnya, resesi masih mengalami pendalaman ditunjukkan dengan daya beli masyarakat yang merosot. Akibatnya, tidak terjadi permintaan barang atau jasa yang meningkat. Pada akhirnya, menekan harga hingga Juni ini, paparnya.
Bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan terjadi inflasi sebesar 0,04% alias naik dibandingkan April yang terjadi deflasi 0,31%. Inflasi kalender dari Januari-Mei tercatat sebesar 0,10%, dan tahunan 6,04%.
Di sisi lain, lanjut Ahmad Erani, pemilu presiden (pilpres) dan pemilu legislatif tidak terlalu besar berkontribusi pada inflasi Juni 2009. Paling-paling secara umum pemilu legislatif dan pemilu presiden hanya akan menyumbang inflasi sekitar 1%. Tidak terlalu signifikan, imbuhnya.
Selain itu, Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, memperkirakan, pertumbuhan ekonomi bulan Juni ini masih pada kisaran level 3,5% hingga 4%. Sementara untuk kuartal kedua tahun ini hanya 4-4,2% dan tidak mencapai 4,4% seperti kuartal sebelumnya.
Penurunan ini menurutnya, akibat ekonomi yang masih melambat. Bahkan Erani memperkirakan hingga akhir tahun pertumbuhan ekonomi masih akan mengalami perlambatan. Karena, sampai saat ini belum ada pemulihan ekonomi yang berarti akibat lambatnya penyerapan APBN dan stimulus fiskal yang belum berjalan, tuturnya.
Kedua komponen itu belum banyak membantu pemulihan ekonomi nasional. Akibatnya, tidak tercipta pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan. Lambatnya penyerapan APBN, masih merupakan akibat dari pola penyerapan anggaran yang selalu menumpuk di akhir tahun.
Lebih jauh Erani mengatakan, pertumbuhan sejauh ini masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Pasalnya, investasi dan ekspor-impor belum berjalan, dan pengeluaran pemerintah masih terbatas.
Dengan demikian, dalam situasi krisis seperti saat ini, Ahmad Erani mengharapkan pemerintah agar mengefektifkan sumber daya ekonomi yang menjadi tanggungjawabnya. Erani mencontohkan anggaran belanja yang mengejawantah dalam kegiatan ekonomi produktif sehingga bisa menyerap tenaga kerja.
Menurutnya, pemerintah tidak perlu risau dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Tapi, yang terpenting adalah harus fokus pada bagaimana semaksimal mungkin anggaran negara bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan dayabeli masyarkakat, pungkasnya.[E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !