INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin sore melemah 35 poin menjadi Rp10.255-Rp10.265 per dolar dibanding penutupan akhir pekan lalu Rp10.220-Rp10.235 karena meningkat dolar meningkat.
Permintaan dolar di pasar uang domestik meningkat sehingga menekan mata uang Indonesia, kata Dirut PT Finan Corpindo Nusa, Edwin Sinaga di Jakarta, Senin (29/6)
Menurutnya, melemahnya rupiah itu, karena tertekan oleh menguat dolar euro dan yen di perdagangan Asia, karena para investor menunggu laporan ekonomi utama AS dan pertemuan bank sentral di Eropa.
Dolar naik menjadi 95,29 yen dan Euro turun menjadi 1,4035 dolar dari 1,4064 dolar dan menjadi 133,71 yen dari 133,95 yen.
Ia mengatakan, para investor sedang menunggu data pekan ini, dengan fokus pada laporan data kerja AS yang akan memberikan sebuah gambaran jelas dari prospek pemulihan ekonomi terbesar dunia. Para pelaku pasar juga menunggu hasil survei keyakinan bisnis Jepang, ujarnya.
Rupiah, lanjut dia juga tertekan oleh melemahnya bursa regional setelah sebelumnya sempat menguat sebesar 20 poin (sesi pagi). "Kami optimis rupiah akan kembali membaik, karena ada keyakinan bahwa ekonomi nasional pada semester kedua 2009 akan makin membaik," ucapnya.
Menurut Edwin Sinaga, posisi rupiah saat ini dinilai aman dan stabil, juga koreksi harga yang terjadi setelah pekan lalu menguat dinilai wajar. "Saya optimis rupiah akan kembali menguat, apabila tidak ada isu negatif terhadap pasar global," katanya.
Ke depan, lanjut dia rupiah pada akhir tahun ini akan dapat berada di level Rp9.500 per dolar AS melihat berbagai faktor positif yang sangat mendukungnya, seperti tingkat bunga bank yang akan bergerak turun akibat laju inflasi yang terus membaik. "Akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang makin besar akan memicu rupiah menguat, karena aktifnya pelaku asing bermain di pasar domestik," ucapnya. [*/cms]