INILAH.COM, Jakarta - Menneg BUMN Sofyan Djalil mendukung PT PLN menerbitkan obligasi internasional (global bond) senilai 1-2 milar dolar AS, asalkan menerapkan prinsip kehati-hatian.
"Segala aksi korporasi harus dilakukan hati-hati. Itu sudah pasti," kata Sofyan Djalil usai Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR-RI di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (29/6).
Meski begitu Sofyan menjelaskan, dirinya belum mengetahui rencana aksi korporasi PLN tersebut. "Saya belum mendapat laporan dari manajemen," ujarnya.
Namun ia memastikan kalau bahwa perseroan punya ide menerbitkan obligasi internasional akan terlebih dahulu dibahas dengan pemegang saham. "Keharusan dibahas dengan Kementerian BUMN karena bisnis PLN juga merupakan risiko bagi negara," tegasnya.
Sebelumnya Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar mengatakan, PLN menjajaki penerbitan global bond senilai 1-2 miliar dolar AS pada kuartal IV 2009.
Menurut Fahmi, penerbitan global bond tersebut direalisasikan dengan mempertimbangkan struktur pendanaan perseroan. "Waktu emisi obligasi akan disesuaikan bisa sebagian tahun ini dan sebagian lagi tahun depan (2010)," katanya.
Menurut informasi berkembang perusahaan setrum itu sudah menetapkan dua perusahaan Barclays Capital dan UBS AG sebagai konsultan keuangan. "Dana hasil obligasi akan digunakan untuk membiayai investasi perusahaan di bidang pembangkit, transmisi dan distribusi listrik," tegasnya.
Ia menambahkan dana dana obligasi tersebut bukan untuk pendanaan proyek pembangkit 10.000 megawatt, tetapi untuk investasi. [*/cms]