INILAH.COM, Jakarta - Penjualan obligasi valas (global bond) pemerintah yang memberikan yield 11,75 persen sangat memprihatinkan. Pasalnya, dengan bunga tersebut menguntungkan pembeli obligasi tersebut.
Demikian dikatakan Dradjad Wibowo, anggota komisi XI DPR RI dalam rapat kerja dengan Menteri Keuangan, Ketua Bappenas dan Bank Indonesia di gedung DPR, Jakarta, Senin (29/6).
"Ini memprihatinkan. Seandainya butuh dolar AS, dalam negeri banyak yang bisa meminjamkan. kalau 11,75 persen bisa untuk investor berambut hitam, bukan bule rambut pirang," ujarnya.
Menurut Dradjad, pembeli obligasi tersebut betul-betul goyang kaki. Pemberian bunga yang terlalu tinggi juga telah terjadi beberapa kali. Dia mencontohkan, obligasi dalam negeri misalnya di Bank Mandiri yieldnya 2-3 persen, dan di Amerika hanya 1 persen. Sementara, di pemerintah Indonesia mendapat yield 11,75 persen.
"Ini goyang kaki betul, obligasi 100 persen jamin negara, sedangkan kalau perbankan hanya Rp2 miliar yang dijamin negara," jelas Dradjad.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan yield yang diberikan sebesar 11,75 persen karena tergantung suasana dan kondisi.
"Yield 11,75 persen setiap kali menerbitkan utang, yield bergerak sesuai suasana dan transaksi," ujar Sri Mulyani.
Sementara pemerintah untuk bisa men secure financing Luar Negeri, maka tetap harus diterbitkan. Untuk saat ini yield global bond bisa turun antara 6-7 persen. "Keputusan krisis harus tetap dilakukan," tegas Sri Mulyani. [war/hid]