INILAH.COM, Teheran - Gelombang unjuk rasa di Iran memicu kematian sedikitnya 17 orang. Hal ini membuat media-media asing tak pernah lepas memberitakan kerusuhan yang masih saja terjadi. Namun, media setempat justru menampiknya. Yang mana yang benar?
Iran merupakan satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang tidak mengadopsi Bahasa Arab menjadi bahasa sehari-hari. Mereka lebih bangga mengaku sebagai bangsa Persia, tidak seperti tetangga-tetangganya di kawasan itu yang justru mengubah adat dan bahasanya menjadi Arab.
Hal ini juga yang tampaknya mendorong Negeri Para Mullah itu tidak ingin tunduk pada informasi yang didominasi media-media Barat. Yang memprihatinkan, hal ini justru berimbas pada kebebasan media menyampaikan hal-hal yang mereka temukan.
Korban pertamanya adalah koresponden permanen BBC di Teheran, Jon Leyne. Dia diusir pemerintah Iran karena dituduh membantu tindak kekerasan dalam demo pasca-Pilpres Iran 12 Juni lalu.
Juru bicara kementerian luar negeri Iran Hassan Ghashghavi mengatakan kepada kantor berita semi resmi Iran FARS bahwa BBC dan VOA adalah corong diplomasi negara asal media itu. Kedua jaringan itu dituding menyulut perbedaan etnis dan disintergrasi Iran.
Apakah memang itu alasan sebenarnya? Yang jelas, sebelumnya BBC memuat foto ratusan ribuan massa yang disebut sebagai massa rival Ahmadinejad, Mir Hossein Mousavi yang tengah memprotes hasil penghitunga Pilpres Iran.
Namun, belakangan baru diketahui bahwa foto itu hanyalah hasil kroping dari kampanye Ahmadinejad. Sementara gambar Ahmadinejad yang tengah melambaikan tangan dipotong. BBC memang akhirnya memuat ralat foto tersebut yang dipasang di bagian paling bawah berita utama.
Pengusiran wartawan ini tentu saja mengundang kecaman keras dunia internasional. Kelompok hak asasi wartawan Reporters Without Borders mengkritik tindakan itu. Perintah pengusiran itu hanya dua bulan setelah pengusiran seorang wartawan Eropa. Dirancang untuk mengintimidasi semua wartawan asing yang bekerja di Iran, katanya.
Namun, Iran tidak gentar. Dengan alasan yang sama, wartawan Al-Arabiya juga menerima pengusiran. Bahkan, negara itu kemudian melarang semua wartawan media asing meninggakan kantor mereka untuk meliput demonstrasi di jalanan Teheran menyusul kerusuhan yang terjadi.
Kementerian Kebudayaan mengatakan, wartawan dapat terus bekerja dari kantor mereka, namun membatalkan akreditasi pers bagi semua media asing. "Tidak ada wartawan yang memiliki izin untuk melaporkan atau memvideokan atau memfoto di kota ini," kata seorang pejabat Kementerian Kebudayaan Iran.
Tindakan ini kembali menuai kecaman. Kali ini Committee to Protect Journalist (CPJ) yang bermarkas di New York mengatakan pemerintah Iran telah berupaya menahan liputan perbedaan pendapat. Mereka meminta Iran menghentikan penyensoran kasar dan meminta semua wartawan, baik asing maupun lokal diperbolehkan meliput berita bersejarah yang berkembang di Iran saat ini.
Kali ini Iran tidak menanggapi. Namun, apa yang terjadi? Kerusuhan di jalanan Iran seolah berpindah ke ruang redaksi antara media lokal melawan media asing.
Salah satunya, ketika pada 24 Juni lalu, CNN melakukan wawancara via telepon (phoner) dengan seorang perempuan yang disebut berada di tengah aksi protes di depan gedung parlemen Iran di Teheran. Nara sumber itu mengaku polisi dan milisi Basij bertindak represif. Mereka memukuli para pengunjuk rasa dan menembaki mereka.
Yang menarik, Press TV yang merupakan televisi Iran merekam tayangan wawancara itu. Press TV kemudian membandingkan hasil wawancara CNN dengan hasil liputan mereka. Hasilnya sangat jauh berbeda. Dalam paket liputan Press TV, tidak terjadi keributan seperti yang digambarkan nara sumber CNN.
Seolah mengejek, Press TV mengakhiri hasil liputan itu dengan pernyataan dari presenternya, Kami menantang CNN dan jaringan media Barat lain untuk tidak larut dalam reportase yang menghasut. Buktikan bahwa semua berita yang disiarkan berasal dari sumber-sumber yang bisa dipercaya.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari CNN seputar tantangan itu maupun nara sumber via telepon itu. Yang jelas, pengakuan dari seorang jurnalis lepas asal Chicago yang tingal di Libanon, Matthew Cassel, tampaknya bisa menjadi gambaran. Dia mengkritik cara media Barat meliput situasi terkini di Iran.
Media Barat sering terlihat tidak independen. Mereka mengklaim menghormati kebebasan pers, namun kerap membuat pemberitaan sesuai pesanan pemerintahan asal media itu, bebernya.
Pembungkaman aktivitas media internasional di Iran pun ternyata tidak mematikan arus informasi yang meluber deras. Mereka kini menggunakan banyak cara. Di antaranya, melalui citizen journalist dan memanfaatkam situs jejaring sosial ataupun video seperti Facebook, Twitter, dan YouTube. [E1]