Kamis, 24 Mei 2012 | 05:44 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Boediono Condong Pikirkan Kapitalis Besar
Headline
Boediono - inilah.com /Agung Rajasa
Oleh:
web - Senin, 29 Juni 2009 | 17:45 WIB
INILAH.COM, Ambon, Maluku - Calon presiden M Jusuf Kalla mengatakan perdebatan soal pemberian jaminan untuk proyek listrik 10 MW bukan persoalan marah kepada Boediono atau etis atau tak etis, tetapi menyangkut prinsip pengelolaan ekonomi bangsa.

"Ini bukan soal saya marah atau tidak (pada Boediono). Tetapi ini soal prinsip pengelolaan ekonomi negara. Ini soal konsep ideologi ekonomi," kata Capres M Jusuf Kalla dalam penerbangan dari Ternate, Malut menuju Ambon, Maluku, Senin (29/6).

Pernyataan Kalla ini menanggapi jawaban Capres SBY yang menilai Capres JK dinilai tak etis mengemukakan soal penolakan Boediono untuk memberikan jaminan bagi proyek listrik 10 ribu MW.

Menurut Kalla, ada satu pihak yang tak mau menjamin kalau untuk kepentingan rakyat. Tetapi, tambah Kalla, di sisi lain justru mau menjamin penuh kalau kepentingan kapitalis besar.

Kalla menjelaskan saat itu Boediono selaku Menkeu tidak bersedia memberikan jaminan untuk proyek listrik 10 MW padahal proyek listrik 10 MW adalah untuk kepentingan rakyat.

Kalla mengatakan di sisi lain justru ada keinginan untuk mengeluarkan penjaminan perbankan (blanket guarantee). "Saya keras menolak itu. Ini sangat berbahaya bagi bangsa ini kalau pemikiran seperti ini terus-menerus dikembangkan," kata Kalla dengan nada tinggi.

Kalla mengatakan ternyata keputusan penolakannya untuk menyetujui pemberiaan blanket guarantee terbukti saat ini benar.
"Coba kalau saat itu kita setujui blanket guarantee, pasti sudah terjadi BLBI jilid II. Bisa sampai dua ratus triliun kerugiannya," kata Kalla.

Kalla menjelaskan, setidaknya tiga kali dewan Gubernur BI termasuk Boediono datang ke kantor Wapres untuk meminta persetujuannya soal blanket guarantee.
"Kata Boediono, itu atas perintah Presiden SBY. Tetapi saya tetap tak mau jamin," tandas Kalla.

Kalla menjelaskan persoalan ini harus diungkapkan kepada masyarakat karena hal ini menyangkut prinsip pemikiran ekonomi bangsa. "Ini persoalan prinsip berpikir, kalau untuk kepentingan rakyat tak mau jamin. Listrik ini untuk kepentingan rakyat. Tetapi kalau untuk kepentingan kapitalisme besar selalu dijamin," kata Kalla dengan tegas. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
Reva
Rabu, 1 Juli 2009 | 07:48 WIB
Alhamdulillah kita punya capres seperti Yusuf kalla sehingga kita tahu apa yang terjadi dalam pemerintahan, terlihat jelas siapa sebenarnya yang membela rakyat dan yang pura-pura membela rakyat, ingat rakyat nggak mau terus menerus dibohongi..
Kamal
Selasa, 30 Juni 2009 | 06:55 WIB
SBY kena batunya... 2kali pula ... maksudnya ingin menarik simpati dengan memberikan statement yang menurutnya akan dianggap bijak "JK tidak Etis" tapi balasan JK membongkar kedok sebenarnya... jadi tambah jelas.. siapa yang sebenarnya g etis kepada rakyat walaupun ngakunya peduli rakyat.. saya sebagai rakyat bangga dengan Pak Jk.. semoga anda dapat konsisten nantinya memperjuangkan rakyat apabila nanti terpilih... amiin
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.