INILAH.COM, Jakarta Ekspektasi pemangkasan BI rate seiring terkontrolnya tingkat inflasi akan membawa sentimen positif bagi saham perbankan. Namun, NPL bank yang cenderung naik serta tingginya valuasi, tidak akan membuat saham finansial ini langsung melesat.
Sahamsaham perbankan menarik dikoleksi seiring ekspektasi turunnya BI rate pekan ini. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menurunkan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin pada Juli 2009, berlanjut turunnya suku bunga perbankan.
Ekspansi kredit perbankan semester kedua mendatang pun akan lebih gencar seiring turunnya resiko seusai rampungnya Pemilu. Kalangan perbankan pun telah merevisi target kredit tahun ini.
Target kredit PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik dari 18-22% menjadi sekitar 24-25%, dan bank BTN dari 15% menjadi 25%. Sementara PT Bank Mega (MEGA), dan PT Bank Mandiri (BMRI) akan melakukan penyesuaian dalam waktu dekat.
Analis pasar modal Bhakti Securities Reza Nugraha mengatakan, pasar berekspektasi data inflasi akan rendah sehingga membuka peluang BI untuk memangkas suku bunganya lebih lanjut. Namun, meskipun BI rate turun dan daya beli masyarakat masih tinggi, suku bunga kredit tidak akan langsung turun.
Hal ini karena kredit bermasalah (NPL) perbankan masih cenderung naik dan valuasi sahamnya yang masih tinggi. Saham perbankan akan flat meski ada penurunan suku bunga. BI rate belum jadi pemicu masyarakat membeli saham perbankan, papar Reza, kepada INILAH.COM.
Saham perbankan direkomendasikan untuk dikoleksi jangka menengah panjang, setidaknya hingga usai pilpres. Hal ini mengingat valuasi saham sektor ini yang sudah tinggi.
Adapun saham-saham yang disarankan adalah PT Bank Danamon (BDMN), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI). Investor saya rekomendasikan beli saham-saham ini,katanya.
Menurutnya, ekspektasi penurunan suku bunga akan berimbas positif bagi saham BDMN dan BBRI. Dengan basis nasabah kedua bank yang cukup kuat, BDMN bisa menggenjot kucuran kredit dari multifinance.
Sedangkan BBRI bisa genjot dari sektor UKM. Sedangkan saham BBNI direkomendasikan karena valuasinya sudah rendah. Harga saham bank sudah mencapai harga sebelum krisis, sedangkan BBNI masih relatif rendah, paparnya.
Saham BBNI direkomendasikan terkait kinerja perseroan yang memuaskan. Sepanjang kuartal pertama 2009, laba bersih perseroan naik 315% menjadi Rp 635 miliar. Sehingga laba bersih per saham juga naik 320% menjadi Rp 42 dari Rp 10. Peningkatan laba ditopang naiknya kredit 29% seiring naiknya Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 30%.
Komposisi kredit BBNI masih didominasi kredit UKM yang mencapai 42%, disusul kredit korporasi 40%, kredit konsumer 15% dan pembiayaan syariah 3%. Sementara dari sisi pendanaan, terbesar yakni 54% adalah dari dana murah (tabungan dan giro) dan sisanya atau 46% berasal dari deposito.
Pengamat pasar modal David Cornelis menuturkan, inflasi dan BI rate dinilai tidak akan berimbas signifikan terhadap penguatan indeks jangka pendek, karena telah difaktorkan pasar. Trigger penggerak indeks berasal dari penguatan harga minyak dan komoditas serta nilai tukar rupiah.
Ia pun menyarankan investor untuk jangka pendek mencermati saham-saham likuiditas besar untuk mengurangi risiko pelemahan saham akibat pola sideways tersebut. Saya sarankan saham BBCA, katanya.
Sedangkan Tim riset Samuel Sekuritas merekomendasikan beli untuk BBCA. Menurutnya, dengan target harga di level Rp 3.500 dan posisi BBCA terakhir di level Rp 3525, maka perlu koreksi dulu sebelum investor masuk. Buy on weakness di level Rp 3.500, ini adalah level support yang kuat, imbuhnya.
Sebelumnya, Farallon Capital Management menjual 3,99% saham BBCA di harga Rp 3.425 per saham ke beberapa investor asing dan meraih dana Rp 3,38 triliun dari penjualan tersebut.
Semula saham milik Farallon ditawarkan pada kisaran harga Rp 3.425-3.650, namun akhirnya dijual pada Rp 3.425 per saham. Manajemen BBCA menyatakan aksi tersebut tidak ada hubungannya dengan kinerja perseroan. Farallon sudah menjadi pemegang saham BBCA sejak 2002. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !