INILAH.COM, Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menjajaki bisnis baru untuk mendukung kinerja perusahaan melalui utang baru.
Demikian diungkapkan Direktur Utama BNBR Ari Saptari Hudaya seusai RUPS Tahunan dan RUPS Luar Biasa di Jakarta, Selasa (30/6).
Ia mengakui, pemegang saham BNBR menyetujui adanya utang baru yang akan diperoleh oleh perseroan asalkan utang lama sudah direstrukturisasi. "Utang baru ini kita prioritaskan untuk mencari bisnis baru," kata Ari tanpa menyebutkan bisnis apa yang bakal dijajaki.
Bukan hanya utang baru yang disetujui pemegang saham, Ari mengakui pemegang saham pun menyetujui adanya aset yang baru. Ia mencontohkan, anak usahanya baru menyelesaikan akuisisi 3 perusahaan senilai Rp6,28 triliun.
Semua rencana perseroan mulai dari restrukturisasi hingga platform perseroan, lanjut Ari, akan dimasukkan dalam blue book atau buku biru yang akan selesai dalam 2-3 bulan mendatang. Buku biru ini dibuat karena adanya perubahan susunan direksi perseroan yang disebut dengan Both of Management.
Sementara itu, Chief of Financial Officer BNBR, Eddy Soeparno mengklaim, BNBR telah melakukan restrukturisasi utang sebesar Rp5,6 triliun. "Utang itu sudah closing sebelum kuartal I-2009," jelas Eddy.
Lebih jauh, Eddy merinci restrukturisasi utang yang terdiri dari pertama, sebesar Rp4,26 triliun dari US$575 juta posisi utang ke Northstar Pasific Ltd pada periode Maret 2009. Utang ke Northstar tersebut terdiri dari beberapa opsi yakni apakah Northstar akan menjadi pemegang saham di BNBR dan konversi saham atau convertible bond. "Opsi ini masih dipelajari dalam 2-3 bulan ke depan," jelas Eddy.
Kedua, sebesar Rp1,4 triliun pada posisi Mei 2009. "Kedua utang tersebut jatuh tempo pada Januari 2012 dalam bentuk Medium Term Notes (MTN)," tandasnya. [san/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !