INILAH.COM, Jakarta Selebaran fotokopi artikel tabloid Indonesia Monitor berjudul Apakah PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katolik? terus menggelinding. Buntut kasus itu makin panjang setelah pengedarnya diketahui. Dia tak lain kader Partai Demokrat, Adi Zein Ginting. Inikah operasi kontra intelejen yang dilakukan kubu SBY-Boediono?
Menurut pengamat intelejen Wawan H Purwanto, tak tertutup kemungkinan kasus penyebaran fotokopi tabloid Indonesia Monitor merupakan bagian dari operasi kontra intelejen. Kasus itu bisa masuk kategori intelejen. Tujuan dari orang itu apa? Lalu link-up-nya siapa? Siapa yang mendanai? Afiliasi politiknya ke mana? katanya kepada INILAH.COM, Selasa (30/6) di Jakarta.
Kendati demikian, Wawan menegaskan, kasus yang telah masuk ranah hokum itu lebih baik ditunggu hasil penyelidikannya. Apalagi aparat kepolisian kini gencar mengungkap motif penyebaran selebaran tersebut.
Bagaimana analisis Wawan melihat situasi mutakhir menjelang pilpres dalam perspektif inetelejen? Bagaimana pula peluang dari tiga pasang capres dalam menggunakan operasi intelejen untuk memenangkan jagoannya? Berikut ini wawancara lengkapnya:
Selebaran tentang isu bahwa Ny Boediono beragama Katolik cukup ramai di perbincangkan karena tersebar saat kampanye JK-Wiranto di Medan belum lama ini. Dalam perkembangannya, diduga pelakunya adalah kader Partai Demokrat. Banyak publik menyebut ini adalah bagian dari kontra intelejen. Bagaimana komentar Anda?
Bagi saya kasus itu simple, karena begitu isu itu muncul tinggal dicounter, maka selesai isu itu. Apalagi, di era saat ini semua media bisa dengan cepat memberi respons. Kalau operasi intelejen itu operasi apa? Operasi tertutup bisa, operasi khusus bisa. Saya melihat kasus ini, sebuah penciptaan opini.
Tidak perlu tindakan intejelen, karena masyarakat awam juga bisa. Kalau sudah diketahui siapa penyebarnya, maka proses hukum berjalan, di balik itu ada apa? Apa ini menciptakan bahwa si A didholimi? Atau melakukan operasi pembusukan di internal? Itu bisa juga terjadi. Tinggal pengembangan kasus ini, apalagi saat ini kasus itu sudah masuk ranah hukum.
Apakah upaya membangun opini bermotif mengkambinghitamkan tokoh tertentu masuk kategori operasi kontra intelejen?
Bisa masuk kategori kontra intelejen. Tapi tujuan dari orang itu apa? Lalu link-up-nya siapa? Siapa yang mendanai? Afiliasi politiknya ke mana? Apakah dia inflintran atau yang memang ditugaskan untuk seperti itu. Kita perlu kaji lebih jauh dari hasil penyidikan, apalagi kasus ini sudah masuk ranah hukum.
Bagaimana pendapat Anda dengan adanya anggapan bahwa dalam Pilpres 2009 para capres memainkan operasi intelejen yang notabene di semua pasang capres memiliki para purnawirawan TNI?
Semua mantan tentara ada di semua capres, jadi mereka tahu counternya. Lha wong mereka satu guru satu ilmu. Percuma saja memainkan operasi intelejen, yang lain juga tahu counternya, jadinya kucing-kucingan. Yang utama saat ini adalah sisi marketing, menjual sisi capresnya agar dapat mampu menggaet dukungan yang memadai. Jadi tidak signifikan memainkan operasi intelejen. Meski peluang untuk melakukan operasi intelejen tetap terbuka. [P1]