Selasa, 29 Mei 2012 | 04:18 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Wawan H Purwanto
'Selebaran Katolik' Aksi Kontra Intelijen
Headline
Wawan H Purwanto
Oleh: R Ferdian Andi R
web - Rabu, 1 Juli 2009 | 00:08 WIB
INILAH.COM, Jakarta Selebaran fotokopi artikel tabloid Indonesia Monitor berjudul Apakah PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katolik? terus menggelinding. Buntut kasus itu makin panjang setelah pengedarnya diketahui. Dia tak lain kader Partai Demokrat, Adi Zein Ginting. Inikah operasi kontra intelejen yang dilakukan kubu SBY-Boediono?

Menurut pengamat intelejen Wawan H Purwanto, tak tertutup kemungkinan kasus penyebaran fotokopi tabloid Indonesia Monitor merupakan bagian dari operasi kontra intelejen. Kasus itu bisa masuk kategori intelejen. Tujuan dari orang itu apa? Lalu link-up-nya siapa? Siapa yang mendanai? Afiliasi politiknya ke mana? katanya kepada INILAH.COM, Selasa (30/6) di Jakarta.

Kendati demikian, Wawan menegaskan, kasus yang telah masuk ranah hokum itu lebih baik ditunggu hasil penyelidikannya. Apalagi aparat kepolisian kini gencar mengungkap motif penyebaran selebaran tersebut.

Bagaimana analisis Wawan melihat situasi mutakhir menjelang pilpres dalam perspektif inetelejen? Bagaimana pula peluang dari tiga pasang capres dalam menggunakan operasi intelejen untuk memenangkan jagoannya? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Selebaran tentang isu bahwa Ny Boediono beragama Katolik cukup ramai di perbincangkan karena tersebar saat kampanye JK-Wiranto di Medan belum lama ini. Dalam perkembangannya, diduga pelakunya adalah kader Partai Demokrat. Banyak publik menyebut ini adalah bagian dari kontra intelejen. Bagaimana komentar Anda?
Bagi saya kasus itu simple, karena begitu isu itu muncul tinggal dicounter, maka selesai isu itu. Apalagi, di era saat ini semua media bisa dengan cepat memberi respons. Kalau operasi intelejen itu operasi apa? Operasi tertutup bisa, operasi khusus bisa. Saya melihat kasus ini, sebuah penciptaan opini.
Tidak perlu tindakan intejelen, karena masyarakat awam juga bisa. Kalau sudah diketahui siapa penyebarnya, maka proses hukum berjalan, di balik itu ada apa? Apa ini menciptakan bahwa si A didholimi? Atau melakukan operasi pembusukan di internal? Itu bisa juga terjadi. Tinggal pengembangan kasus ini, apalagi saat ini kasus itu sudah masuk ranah hukum.

Apakah upaya membangun opini bermotif mengkambinghitamkan tokoh tertentu masuk kategori operasi kontra intelejen?
Bisa masuk kategori kontra intelejen. Tapi tujuan dari orang itu apa? Lalu link-up-nya siapa? Siapa yang mendanai? Afiliasi politiknya ke mana? Apakah dia inflintran atau yang memang ditugaskan untuk seperti itu. Kita perlu kaji lebih jauh dari hasil penyidikan, apalagi kasus ini sudah masuk ranah hukum.

Bagaimana pendapat Anda dengan adanya anggapan bahwa dalam Pilpres 2009 para capres memainkan operasi intelejen yang notabene di semua pasang capres memiliki para purnawirawan TNI?
Semua mantan tentara ada di semua capres, jadi mereka tahu counternya. Lha wong mereka satu guru satu ilmu. Percuma saja memainkan operasi intelejen, yang lain juga tahu counternya, jadinya kucing-kucingan. Yang utama saat ini adalah sisi marketing, menjual sisi capresnya agar dapat mampu menggaet dukungan yang memadai. Jadi tidak signifikan memainkan operasi intelejen. Meski peluang untuk melakukan operasi intelejen tetap terbuka. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
4 Komentar
Jono
Jumat, 3 Juli 2009 | 23:17 WIB
sudah berteriak-teriak ternyata kena diri sendiri.... memalukan!
Orang jawa
Rabu, 1 Juli 2009 | 10:31 WIB
Kita bangsa ini sebaiknya di pimpin oleh orang yang tidak munafik, berani tampil apa adanya walaupun milyuner, tidak menyusup ke kampanye orang untuk menyebarkan Black campaign..yach sudahlah kita sudah tau siapa dalangnya dan kadernya dari mana..Perubahan bangsa ini bisa terjadi kalau terjadi perubahab kepemimpinan secara Nasional
Rexy
Rabu, 1 Juli 2009 | 07:51 WIB
Sok tau lo Wawan. kalo emang lo pinter di bidang intelejen pastinya udah di tarik sama BIN atau BAIS. tapi karena tau nya main tuding dan pake analisis yg amburadul begini jadinya. mendingan ngga usah analis2 an deh lo. diem ajah. pakar bukan, mantan intelejen bukan!!!! Basi omongan lo
ASAL BUKAN " S "
Rabu, 1 Juli 2009 | 01:22 WIB
Jika saja pilpres diadakan di bln September, SBY dgn MASKER CITRA'nya akan tergilas oleh JK-WIN atau Mega-Pro. Rakyat akan kian tahu kebusukan di balik masker itu dan kian enek dgn gaya kepongahan & arogansinya yg kian mengarah pada STATUS QUO, dgn menghalalkan sgala cara demi kekuasaan. Naef ea...
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.