INILAH.COM, Makassar - Kehadiran cawapres pendamping SBY, Boediono, di Makassar mendapat sambutan 'panas'. Keranda bertuliskan 'Matinya Demokrasi, Innalillahi Wa Inna Lillahi Rojiun' dibakar di depan Kantor KPU Sulsel.
Keranda itu dibawa oleh sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Peduli Bangsa yang berunjuk rasa menyambut Boediono yang rencananya hadir dalam kampanye dialogis di Gedung Olah Raga (GOR) Mattalatta, Rabu (1/7) sore.
Akbar, salah seorang orator unjuk rasa menyebutkan, dalam orasinya menyebutkan, neoliberalisme tidak pantas hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Kepada Capres dan cawapres kalau terpilih untuk tidak menganut sistem neoliberalisme karena tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat," kata Akbar dalam orasinya.
Selain itu mereka juga meminta pencabutan UU BHP karena bertentangan dengan hak konstitusional dalam UUD 1945 tentang pemerintah wajib mencerdaskan kehidupan bangsa. Aksi mahasiswa ini kemudian bubar setelah membakar keranda jenazah sebagai simbol matinya demokrasi hari ini.
Kemudian menyusul pengunjuk rasa dari kelompok lain yang juga mendatangi kantor KPU Sulsel. Mereka datang dari Sukarelawan Pejuang Rakyat Untuk Pembebasan Tanah Air dengan tuntutan yang sama yakni menentang neoliberalisme.
Pengunjuk rasa ini didominasi kaum ibu dari masyarakat miskin kota berjumlah kurang lebih 200 orang, dengan tegas menolak SBY-Boediono. [ana]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !