INILAH.COM, Jakarta Kendati terpantau menguat, pergerakan saham PT Bumi Resources (BUMI), masih berada dalam kondisi tertekan. Aksi jual investor diperkirakan masih akan terjadi. Investor pun direkomendasikan jual.
Betrand Raynaldi, analis Panca Global Securities memprediksikan saham BUMI masih akan melemah, seiring berlanjutnya aksi jual investor asing. Rencana pembagian dividen Rp50/lembar saham pun, dinilai tidak mampu mengangkat saham sejuta umat ini. Untuk jangka pendek, saham BUMI direkomendasikan jual.
"Level support BUMI berada di Rp1.820 dan resistan di Rp1.920. Tapi kecenderungan kuatnya mengarah ke Rp1.820. Investor sebaiknya sell BUMI," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Rabu (1/7) sesi siang, saham BUMI menguat 20 poin (1,07%) ke level Rp1.880. Setelah kemarin sempat terkoreksi 30 poin akibat maraknya aksi jual investor asing. Volume transaksi siang ini mencapai 195.794 lembar saham, senilai Rp 182 miliar, dengan frekuensi 2.132 kali.
Berikut wawancara lengkap INILAH.COM dengan Betrand Raynaldi:
Bagaimana pergerakan saham BUMI hari ini?
Saya kira saham BUMI masih akan melemah seiring berlanjutnya aksi jual investor asing. Koreksi yang terjadi kemarin disebabkan besarnya tekanan jual itu. Salah satunya Macquarie Securities yang siang kemarin melakukan penjualan terbesar di lantai bursa mencapai Rp1 miliar. Hal ini dilakukan di tengah kondisi pasar yang tipis transaksi.
Padahal, secara logika penurunan BUMI pada perdagangan kemarin tidak masuk akal. Mengingat koreksi terjadi saat harga minyak mentah dunia naik ke level US$73 per barel. Sebelumnya, ketika harga minyak tinggi, BUMI ikut menguat. Dengan gaya permainan asing tersebut, kemungkinan BUMI masih akan turun hari ini.
Mengapa harga minyak tidak mampu menopang penguatan BUMI?
Kesimpulan saya, ini memang merupakan karakteristik saham BUMI, yaitu bergerak volatile saat ada isu internal, seperti akuisisi PT Darma Henwa, PT Fajar Bumi Sakti dan Pendopo Coal. Namun, saat berita itu sudah diklarifikasi dan surut, BUMI tidak memiliki sentimen positif untuk menopang penguatannya, meskipun harga minyak naik.
Apakah keluarnya pihak asing dari bursa terkait pilpres pekan depan?
Ya. Bisa saja BUMI melemah akibat keluarnya investor asing. Mereka cenderung wait and see hingga pelaksanaan Pilpres 8 Juli. Namun, tak menutup kemungkinan pelaku pasar keluar dari saham BUMI beralih ke saham lain.
Dugaan saya, pelemahan BUMI bisa terjadi akibat berakhirnya masa window dressing yang dilakukan para fund manager. Karena itu, tekanan jual terhadap BUMI masih akan berlanjut. Meskipun banyak pihak mengharapkan penurunan BUMI tidak terlalu jauh.
Bagaimana rencana pembagian dividen BUMI sebesar Rp50 per lembar saham?
Menurut saya, dividen Rp50 tidak akan mampu mengangkat harga BUMI karena nilainya terlalu kecil. Memang ada beberapa investor yang berpikir dividen BUMI signifikan. Padahal, dividennya masih lama, payment-nya tanggal 20 Agustus mendatang dan cum-nya awal Juli.
Di sisi lain, sentimen dari Dow Jones masih belum memiliki faktor dominan yang mendorong penguatan bursa secara signifikan. Karena itu, sentimen positifnya tidak akan terlalu berpengaruh pada pergerakan bursa lokal, termasuk saham BUMI di dalamnya. Bursa AS masih wait and see terhadap perkembangan market berikutnya. Hal itu terefleksi dalam volume traksaksi yang tidak besar.
Lalu, akan bergerak di kisaran berapa saham BUMI?
Level support BUMI berada di Rp1.820 dan resistan di Rp1.920. Tapi kecenderungan kuatnya mengarah ke Rp1.820. Untuk jangka pendek, saham BUMI saya rekomendasikan jual. [E2]