INILAH.COM, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi Juni 2009 di level 0,11%. Kendati tidak menguntungkan perekonomian, tingkat inflasi yang rendah ini menguntungkan pasangan incumbent SBY-Boediono, di tengah kampanye pemilu presiden. Apa ada rekayasa?
Hendri Saparini, Direktur Pelaksana Econit Advisory mengatakan, manipulasi bisa saja terjadi dalam proses pengukuran angka inflasi yang diumumkan siang ini oleh BPS. Namun, ia mengaku tidak tahu menahu secara pasti.
"Saya tidak tahu ada rekayasa atau tidak. Namun hal itu sangat mungkin dilakukan," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (1/6).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2009 sebesar 0,11%. Inflasi tahun kalender dari Januari-Juni 2009 atau semester pertama 2009 sebesar 0,21%. Sementara itu, inflasi year on year atau Juni 2009 terhadap Juni 2008 sebesar 3,65%.
Bahan makanan memberikan kontribusi negatif terhadap inflasi pada Juni 0,04%. Tapi kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau memiliki kontribusi 6,29% terhadap inflasi.
Menurutnya, tingkat inflasi rendah bisa saja direkayasa agar menguntungkan dalam masa kampanye, terutama agar pasangan incumbent SBY-Boediono mendapatkan citra positif.
"Soalnya inflasi dianggap sebagai salah satu indikator kinerja pemerintahan," imbuhnya.
Hendri pun melihat, inflasi yang rendah pada kondisi ekonomi saat ini sebenarnya tidak bermakna positif, mengingat turunnya daya beli masyarakat.
Ia menuturkan, tingginya tingkat inflasi sebelumnya didorong faktor makanan, akibat bahan baku impor yang tinggi pada 2007 dan 2008. Sedangkan inflasi saat ini terjadi karena penurunan harga internasional dan domestic demand yang turun.
"Hal ini menandakan ekonomi masih melambat," katanya.
Menurutnya, inflasi yang rendah belum tentu merepresentasikan kenyataan. Pasalnya, inflasi urban and middleclass bias terhadap kelompok kaya dan perkotaan, terlihat dari data statistik BPS menggunakan Survei Biaya Hidup (SBH) dan bukan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
"Inflasi yang sekarang ini bukan inflasi yang dihadapi masyarakat bawah, karena inflasi itu bias terhadap kelompok menengah dan perkotaan," tandasnya.
Hendri pun menilai, inflasi rendah ini hanya menguntungkan pihak-pihak di sektor keuangan Karena, dengan inflasi yang rendah dan ekspektasi turunnya BI rate, nilai uang mereka tidak turun.
"Mereka dipastikan menyambut positif rendahnya inflasi yang akhirnya menurunkan suku bunga perbankan," katanya,
"Padahal BI rate saat ini tidak lagi menjadi benchmark perbankan, mengingat suku bunga perbankan banyak masalah sehingga tidak bisa turun."
Lebih jauh diingatkan, bahwa inflasi rendah belum tentu mengindikasikan kesejahteraan masyarakat. Hal ini melihat inflasi year on year 2008 sebesar 11,06% yang naik tajam dibandingkan 2007 sebesar 6,59%. "Kalau sekarang inflasinya rendah bukan berarti kesejahteraan meningkat. Tapi rendah dari yang sudah tinggi sebelumnya," tuturnya. [E2/L1]