INILAH.COM, Jakarta - Upaya sejumlah BUMN mempercepat penyelesaian utang Rekening Dana Investasi/Subsidiary Loan Agreement (RDI/SLA) kepada pemerintah terbentur ada tidaknya mekanisme percepatan pembayaran.
"Dua BUMN yang siap mempercepat pelunasan utang yaitu PT Telkom, Semen Tonasa," kata Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, di Jakarta, Rabu (1/7).
Saat ini, tercatat 29 BUMN memiliki utang RDI senilai Rp14,54 triliun. Utang tersebut terdiri dari mata uang lokal Rp7,37 triliun, mata uang asing sebesar 715,09 juta dolar AS, 48,60 juta Deutsche Mark, dan 16,31 juta Euro.
Said menjelaskan, Kementerian BUMN selaku kuasa pemegang saham BUMN harus menyesuaikan peraturan dari Departemen Keuangan, apakah ada mekanisme percepatan pembayaran utang RDI tersebut. "Kalau dipercepat dari jadwal, bagaimana soal penetapan besaran bunganya. Ini yang harus kita sinkronkan," tegas Said.
Ia menambahkan, keinginan BUMN melunasi utangnya tersebut disebabkan pinjaman yang dulu diberikan pemerintah umumnya memiliki tingkat suku bunga tinggi. "Saat ini, bunga pinjaman relatif rendah. Selain itu, kemampuan perusahaan melunasi utang juga semakin tinggi tercermin dari membaiknya kinerja keuangan perseroan," katanya. [*/cms]