INILAH.COM, Jakarta Kalau tak ada aral melintang, semester dua ini, manajemen PT Berau Coal akan memenuhi janjinya. Perusahaan tambang batubara papan atas ini akan menjual sebagian sahamnya ke pasar modal. Bagaimana prospeknya?
Belum jelas benar, berapa banyak saham yang akan dijual melalui hajatan IPO kelak. Yang pasti, penawaran umum perdana yang akan dilakukan melalui PT Amardian Tritunggal (induk usaha Berau) itu mencari dana segar senilai US$ 300 juta atau sekitar Rp 3 triliun.
Menurut Presiden Direktur Berau Coal Bob, Kamandanu, pihaknya kini tengah melakukan penilaian untuk menentukan harga saham perseroan. Tapi sebuah sumber menyabutkan bahwa uji tuntas itu sebenarnya sudah selesai sejak pekan lalu. Tinggal menunggu saat yang tepat untuk dipublikasikan, katanya.
Bahkan, pemilik Berau telah menargetkan bahwa IPO paling lambat akan digelar September mendatang. Berau sendiri tidak boleh melakukan IPO karena terganjal undang-undang yang menyatakan perusahaan batubara tidak boleh IPO langsung.
Oleh karena itu, AT akan dibantu oleh beberapa institusi asing dalam IPO, seperti Deutsche Bank AG, Bank of America, Merrill Lynch, dan PacBridge Capital.
Terlepas dari rincian jumlah saham yang akan dilepas dan harga yang akan dipasang, para analis meyakini, efek terbitan Berau pasti akan jadi rebutan. Soalnya, sebagai produsen batubara terbesar ke lima di tanah air, Berau memiliki kinerja yang lumayan kinclong.
Apalagi ekspektasi pemulihan ekonomi global tahun depan akan mengangkat kembali permintaan akan batubara. Oleh karena itu harga batubara akan kembali naik dalam jangka panjang.
Pada tahun lalu, dengan menjual 13,5 juta ton batubara di harga rata-rata US$ 46 per ton, perseroan berhasil meraih pendapatan US$ 640 juta. Dari jumlah itu, laba bersih yang dikantungi mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 920 miliar.
PT Berau Coal memangkas rencana belanja modalnya pada tahun ini sebesar 65% menjadi US$ 14 dari sebelumnya sebesar US$ 40 juta. Jika ditambah belanja modal tahun 2008 sebesar US$8 juta yang tidak terserap pasar, maka capex tahun 2009 akan menjadi US$22 juta.
Sedangkan untuk tahun ini, manajemen mematok pendapatan sebesar US$ 1 miliar dengan laba bersih yang meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 200 juta.
Dana ini akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas pembebasan lahan (stock pile area) batubara dan membangun jalan. "Sisa capex dari alokasi US$40 juta tahun 2009 itu akan kami gunakan di tahun 2010," katanya.
Pemotongan capex disebabkan perusahaan menunda pembangunan pengembangan pelabuhan pengangkut batubara di Suaran, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Adapun ekspansi pelabuhan dari kapasitas 300 ribu ton menjadi 600 ribu ton akan dilakukan pada 2010.
Berau coal juga memotong produksi batubara dari target awal 18 juta ton menjadi 14,7 juta ton. Sedangkan target penjualan 14 juta ton. Dipangkasnya produksi disebabkan pengurangan penjualan batubara ke Taiwan dan Korea Selatan.
Namun, asal tahu saja, Berau saat ini memiliki cadangan batubara sebesar 300 juta ton. Sehingga, kalaupun kapasitas produksinya ditingkatkan menjadi 15 juta ton per tahun, tambang ini baru akan habis 20 tahun kemudian.
Pada kuartal pertama 2009, produksi batubara mencapai 3 juta ton, atau 90% dari target. Target produksi ini tidak tercapai karena faktor hujan yang menyebabkan tanah menjadi basah. Sedangkan penjualan pada kuartal pertama 2009 hanya mencapai 87% dari produksi batubara, yaitu sebesar 2,6 juta ton.
Pada kuartal kedua 2009, Berau menargetkan produksi dan penjualan masing-masing 3,7 juta ton. Adapun komposisi penjualan Berau adalah 40% domestik dan 60% ekspor. Sebanyak 10% penjualan dilakukan melalui pasar spot. [E2/P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !