Di tengah banyaknya pihak yang memojokkan pemerintah dengan mengatakan meningkatnya tingkat kemiskinan dan pengangguran, Badan Pusat Statistik merilis data yang menyatakan jumlah warga miskin menurun 2,4 juta jiwa. Bagaimana mungkin?
Rilis BPS ini mengingatkan peristiwa serupa tahun 2007 di mana saat itu BPS mengeluarkan data menurunnya angka kemiskinan setelah popularitas
SBY merosot. Turunnya popularitas SBY tersebut dikarenakan meroketnya harga kebutuhan poko menyusul melambungnya harga minyak goreng.
Bagaimana mungkin kemiskinan turun, jika harga meningkat sedangkan pendapatan tetap? BPS pun mengubah waktu sensus dari sebelum panen, menjadi setelah panen, di mana saat itu banyak warga yang mendapat kerja sambilan karenanya angka pengangguran dikatakan menurun.
Perang, termasuk perang melawan kemiskinan membutuhkan data intelijen yang valid. BPS adalah intel negara dalam bidang statistik. Jika data yang diajukan tidak akurat, maka strategi melawan kemiskinan pun tidak akan berhasil.
Untuk itu sebaiknya BPS merilis data statistik, bukan data politis!
Ryianto Nugroho
ryanthonugroho@yahoo.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !