INILAH.COM, Jakarta - Anggapan kalau cawapres Boediono seorang penganut neoliberal seharusnya sudah pupus. Ini karena pasar harus tetap diintervensi pemerintah, bukan diserahkan kepada asing.
Hal itu dikatakan oleh ekonom Faisal Basri dalam dialog nalar sebelum memilih dari buku karangan Boediono bertajuk 'Ekonomi Indonesia Mau Dibawa Kemana?' di Toko Buku Gunung Agung, Jakarta, Kamis (2/7).
"Ada tulisan Boediono yaitu relasi antara state dan market, ini menunjukkan tesis Boediono seorang neolib sudah pupus," ujar Faisal.
Tulisan itu menyebutkan, tutur Faisal, pasar harus tetap dikendalikan. Selain itu tentang pengendalian ekonomi makro harus berdasarkan Pancasila. Boediono berusaha menjabarkan nilai Pancasila ke ekonomi Indonesia sesuai dengan UUD 1945.
"Boediono menggambarkan pasar tidak dalam kesempurnaan. Begitu juga dengan parpol dan pemerintahan. Yang sempurna hanyalah model dan bentuknya tanpa ada implikasi yang sempurna. Dan ini ada kegamangan Pak Boed melihat bangsa ini dikelola orang, pemerintahan dan parpol, dan itu salah. Salah pilih pemimpin itu, perubahannya 5 tahun kembali. Ini sulit," tutur Faisal.
Selain itu, Faisal juga mengatakan bahwa alasan Boediono maju dalam perpolitikan adalah karena Indonesia gagal dan Indonesia mengalami kesusahan.
"Pak Boed ingin bangun bangsa dalam 5 tahun. Supaya kekayaan negara tidak dirampok, supaya tidak impor benih, membangun pembangkita listrik yang tidak karuan dan lebih banyak membangun pelabuhan daripada bandara," kata Faisal. [mvi/sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !