INILAH.COM, Teheran Dewan Pengawal Iran memastikan kemenangan Mahmoud Ahmadinejad dalam Pilpres Iran. Walaupun begitu, kubu Mir Hossein Mousavi tak menyerah begitu saja. Anehnya, mereka meneriakkan jargon Revolusi Islam yang kerap dilekatkan pada kaum Mullah (ulama) yang selama ini berpihak pada Ahmadinejad.
Protes di jalan-jalan utama Teheran memang telah mereda. Namun, bukan berarti perlawanan kaum reformis yang selama ini dilekatkan pada Mousavi tidak berlanjut. Teriakan slogan perubahan dan pemilu bagi rakyat, kini mereka gantikan dengan teriakan takbir.
Padahal, teriakan ini merupakan ciri khas kaum Mullah saat berkampanye mendukung Ahmadinejad. Takbir ini pula yang mengantarkan rakyat Iran dari berbagai kelompok melakukan Revolusi Islam pada 1979 dan mendapuk Ayatollah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi.
Kaum reformis kini meneriakan Allahu Akbar sebagai tanda perlawanan atas penetapan hasil pemilu ulang yang kembali menempatkan Ahmadinejad sebagai pemenang. Teriakan itu akan terdengar di banyak tempat di Teheran antara pukul 22.00-22.30.
Masyarakat yang mendengar teriakan ini kemudian akan menyahuti dengan teriakan yang sama. Sehingga secara maraton teriakan itu akan berkumandang dari satu tempat ke tempat lain.
Tak jarang takbir diteriakkan hanya oleh 10-20 orang melalui pengeras suara setiap menjelang dini hari. Awalnya, banyak warga yang merasa heran dan tak tahu apa maksud teriakan takbir itu. Belakangan, mereka memahami bahwa para pendukung Mousavi menggunakan pekikan itu untuk menyampaikan aksi protes.
Hanya itu? Tunggu dulu. Mereka ternyata juga mengenakan segala macam atribut berwarna hijau sebagai identitas yang dulu dipakai saat Revolusi Islam terjadi pada 1979. Bentuknya bisa berupa pakaian, kerudung, kain yang diikatkan di tangan, hingga bendera.
Para pendukung Mousavi, sepertinya telah berkaca pada kesuksesan Revolusi Islam di Iran itu. Saat itu, setiap golongan yang bergabung, baik kaum Mullah maupun golongan Marxis, sama-sama memekikkan seruan atas kebesaran Tuhan tersebut.
Revolusi Iran memang didukung oleh berbagai kelompok, yakni golongan Mullah, Islam nasionalis, Islam kiri, sekuler nasionalis, Bazari (pedagang), hingga kiri (Marxis). Saat itu, mereka disatukan oleh musuh bersama bernama Shah Reza Pahlevi dan menempatkan Imam Ayatolah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi.
Di mana posisi Mousavi sebenarnya? Dia dikenal sebagai salah satu pentolan Islam kiri yang ingin melawan dominasi kaum Mullah. Dia memenangkan pertarungan dan menjadi perdana menteri pada 1981-1989. Selain dia, kelompok Islam kiri juga dimotori Muhammad Khatami yang memenangkan pilpres 1997.
Namun, bukan berarti posisi kaum Islam kiri dan Mullah selalu bertentangan. Hubungan mereka sempat mesra saat pada awal 1980-an melawan kaum Islam nasionalis. Selama menjabat presiden 1997-2005, Khatami tampak tak berdaya dan gagal menjalankan program reformasi.
Dia dihadang kubu konservatif di bawah kepemimpinan penerus Khomeini, Ali Khamenei, serta lembaga yudikatif dan garda revolusi. Para pendukung Khatami, terutama mahasiswa, akhirnya bergerak sejak 2003.
Mereka menggelar sejumlah aksi unjuk rasa memprotes sistem Vilayat e-Faqih. Sistem ini membuat Hezbollah menjadi pembela utama sistem yang dilahirkan Khomeini. Sistem ini diterapkan hingga datangnya Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan kaum Syiah.
Lalu, bagaimana dengan Ahmadinejad? Dia memang kurang begitu dikenal publik hingga akhirnya memenangkan Pilpres Iran 2005. Dia secara mengejutkan mengalahkan para politisi senior, termasuk Hashemi Rafsanjani. Kemenangannya saat itu tak lepas dari andil pendukung Khatami yang dikenal dari kubu reformis.
Namun, dalam perjalanannya, Ahmadinejad lebih condong ke kubu Mullah. Dia menjadi begitu dekat dengan Ali Khamenei. Hal itu membuat para pendukungnya kecewa dan beralih ke Mousavi. Berangkat dari kesamaan kepentingan itu, kubu reformis kemudian menyatukan diri dengan kelompok lain.
Seperti pada Revolusi Iran 1979 yang menumbangkan sistem monarki dan memiliki musuh bersama Shah Iran Reza Pahlevi. Kini, kaum reformis menyuarakan demokrasi dan kebebasan dengan menjadikan Ahmadinejad sebagai musuh bersama. Alatnya, ya dengan menggunakan jargon dan simbol-simbol Revolusi Islam.
Akankah hal itu menjadi kenyataan? Yang jelas, sepertiga dari 46 juta pemilih berumur di bawah 30 tahun alias mereka yang belum lahir saat revolusi Islam terjadi pada 1979. Namun, hal itu juga harus memperhitungkan dukungan negara-negara Islam dan Arab.
Negara-negara itu sepertinya lebih menginginkan Ahmadinejad. Walaupun lebih pada adanya alasan dapat menjadikan Ahmadinejad sebagai tameng atas persoalan-persoalan yang melanda urusan dalam negeri mereka. Di antaranya atas perjuangan Hamas di Palestina dan Hizbullah di Libanon yang kerap mendapatkan dukungannya. [P1]