INILAH.COM, Jakarta - Isu istri Boediono beragama Katolik dinilai Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) sebagai isu yang tidak penting untuk ditampilkan kepada publik. Sebab, isu tersebut telah secara jelas mempolitisasi agama tertentu.
"Kasus itu (Herawati) mestinya tidak boleh muncul. Karena itu sebenarnya isu yang tidak penting. Mau Katolik, Protestan, Buddha. So what?" kata Sekretaris Umum PGI Richard Daulay, saat menggelar jumpa pers di gedung Center for Dialogue and Cooperation among Civilization (CDCC), Jakarta, Kamis (3/7).
Menurut dia, kasus itu secara jelas telah mempolititasi agama. "Syukur kalau memang menang. Tapi kalau kalah? Berarti menggambarkan tuhan dikalahkan. Masak Tuhan dikalahkan?" ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsuddin. Apabila agama dijadikan komoditas politik berarti telah mengunakan agama secara salah. "Tetapi bila pengaitan agama dan politik, dari bagaimana etika agamanya, saya rasa semua agama tidak akan keberatan," tambahnya.
Baik pasangan SBY-Boediono maupun JK-Win, kata dia, sama-sama mempolitisasi agam. Hal ini terlihat dari spanduk-spanduk mereka. Pasangan JK-Win digambarkan ditampilkan sebagai pasangan Islami. Sementara pasangan SBY-Boediono juga disebut pemimpin Islam sejati. "Inilah yang ditolak oleh pemuka agama," jelas Din. [win/nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !