Kampanye pilpres satu putaran untuk mendukung kemenangan SBY dengan dalih penghematan anggaran dapat dikategorikan sebagai money politics. Mengapa?
Dalam selebaran yang dibagikan, tertulis negara dapat menghemat Rp 4 triliun jika pilpres berjalan hanya satu putaran. Untuk itu mereka mengajak rakyat untuk memilih pasangan SBY -Boediono yang menurut survei LSI telah didukung sebanyak 70% rakyat.
Memang benar jika terjadi pilpres satu putaran maka negara dapat menghemat anggaran, pemerintah pun dapat lebih cepat kembali bekerja
untuk rakyat, dan parpol pun lebih cepat damai. Namun sangat disayangkan jika penghematan anggaran tersebut dikaitkan dengan BLT, seperti yang disosialisasikan timses kepada rakyat penerima BLT di suatu daerah di Sidoarjo.
Mereka mengatakan pencairan BLT tertunda karena uangnya digunakan untuk pemilu, dan jika SBY menang dalam satu putaran, maka BLT akan cepat dicairkan. Dengan demikian tanpa perlu bagi-bagi uang pun timses sebenarnya sudah bagi-bagi harapan.
Apakah kampanye tersebut tidak termasuk money politics?
Abdullah Ikhsan
ikhsanabdullah@ymail.com