SBY selama sepuluh tahun terakhir ini memang menjadi sosok yang layak jual. Buktinya, pada pilpres 2004, meski hanya didukung partai kecil, merebut kemenangan dari incumbent. Sekarang pun tampaknya keberuntungan masih lekat pada capres kelahiran Pacitan ini. Bagaimana yang lain?
Meski menjadi satu-satunya pasangan yang dicap neolib, namun elektabilitas SBY belum bisa dirobohkan. Hal ini dibuktikan dengan rilis lembaga survei. Meski masih pro-kontra, sampai hari ini beberapa lembaga survei masih menempatkan pasangan SBY-Boediono sebagai kandidat pemenang pada pilpres 8 Juli mendatang.
Bahkan perolehan suaranya pun di atas 50 persen. Itu artinya, pasangan nomor dua ini bakal melenggang ke Istana Negara cukup dengan satu putaran.
Tentu kabar tersebut membuat tim sukses pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto terus memutar otak untuk melawan dominasi kekuatan SBY. Hanya ada beberapa cara jitu, salah satunya melakukan manuver politik dengan program dan janji yang membuat rakyat kesengsem.
Manuver pun sudah dilakoni. Yang paling mencolok dengan akrobat politik pasangan Mega-Prabowo adalah dengan melakukan kontrak politik. Bahkan selama kampanye, sudah ada banyak elemen yang melakukan kontrak politik dengan pasangan yang dikenal dengan jargon pro rakyat ini.
Koordinator Tim Advokasi Pasangan Megawati-Prabowo, Topane Gayus Lumbuun, menuturkan partai politik sebagai infrastruktur politik perlu menyampaikan hal-hal yang seharusnya dilakukan pemerintah, sebagai suprastruktur politik, untuk memenuhi semua komitmennya selama kampanye. Hal itu bisa dilakukan dalam bentuk kontrak politik.
Kontrak politik yang sudah diteken di antaranya dengan kalangan buruh, guru, nelayan, dan mahasiswa. Diharapkan melalui kontrak politik ini, rakyat dapat menagih janji manakala pasangan nomor satu tersebut terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Lain Megawati, lain pula JK-Wiranto. Pasangan ini dalam merayu rakyat lebih menekankan pada program kerja yang langsung mengena. Pasangan nomor tiga ini (salah satunya) meluncurkan program MAMPU (Modal Usaha Mandiri Untuk Pemuda). Pasangan ini sadar, pemuda adalah lumbung suara yang sangat menggiurkan.
Kita akan bantu generasi muda agar dapat bekerja dan berusaha dengan berikan permodalan yang sesuai, antara tiga juta hingga dua puluh juta rupiah, kata capres Jusuf Kalla pada kampanye terbuka di Lapangan Gazebo, Bandung.
Kenapa JK-Wiranto jurusnya tidak sama dengan Megawati, tentu alasannya bukan berarti mereka tak berani melakukan kontrak politik. Namun menurut Yuddy Chrisnandi, lebih baik melaksanakan komitmen daripada menandatangani kontrak politik, tetapi tak melaksanakannya.
Untuk menjaga posisinya, tentu pasangan SBY-Boediono juga tetap melakukan manuver politik. Yang salah satunya dengan jor-joran mempublikasikan keberhasilan yang sudah dilakukan di bawah kepmimpinannya.
Namun sayang, menurut pakar hukum tata negara dari Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra, kontrak politik dan janji politik secara kacamata hukum tidak memiliki ikatan apa-apa. Terlebih bila apa yang dijanjikan dalam kontrak politik itu di luar kewenangannya. Jadi, masyarakat harap berhati-hati saja. Selamat memilih.
Ibnu Syakir
ibnusy@gmail.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !