INILAH.COM, Jakarta - Pilpres 2009 dinilai sudah tidak lagi memandang program kerja. Yang dilihat adalah figur fisik, kharisma, sehingga Pilpres bak ajang idol dengan capres menjadi bintangnya.
"Pemilu kini telah berubah menjadi "political marketing" sehingga jadi produk yang paling sering muncul di televisi yang akan dikenal masyarakat," kata Senior Editor Perum LKBN ANTARA, Akhmad Kusaeni, Jakarta, Kamis (2/7).
Peran media televisi yang cukup besar tersebut, kata dia, seakan-akan mampu menjadi hakim penentu kemenangan bagi masing-masing capres-cawapres. Capres harus dikenal oleh masyarakat.
Namun demikian, ketika terkenal maka menjaga 'track record' untuk selalu terlihat baik menjadi suatu keharusan. Bila itu tidak dilakukan, akan sulit untuk mendapatkan pemilih dan keluar menjadi pemenang. Dengan demikian, yang terjadi adalah tim pemenangan Pemilu berusaha keras untuk menutupi yang buruk-buruk.
"Makanya kini betapa berjayanya lembaga-lembaga survei di Indonesia," ujar dia.
Kusaeni juga mengatakan, mendekati Pemilu pada 8 Juli mendatang, masyarakat telah memiliki pilihan. Hanya tinggal 20 persen yang dalam kondisi bimbang.
Sehingga pertarungan yang dilakukan oleh masing-masing tim sukses dan tim iklan adalah memperebutkan suara pemilih yang masih bimbang tersebut.
Kendati demikian, perubahan arus politik saat ini merupakan anugerah bagi bangsa Indonesia, karena selama proses Pemilu terhindari dari pertumpahan darah tidak seperti pelaksanaan Pemilu sebelumnya. [*/ana]