INILAH.COM, Jakarta Meskipun diperkirakan menyusut, cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2009 ini masih cukup aman. Meski begitu, pemerintah tetap disarankan menggenjot produksi minyak domestik dan Bank Indonesia (BI) juga diharapkan mengerem intervensi terhadap rupiah.
Ekonom Bank Danamon Anton Gunawan mengatakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari turunnya cadangan devisa Indonesia. Pasalnya, jumlahnya masih berada di level aman, sehingga cukup untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari cadangan devisa, sehingga bisa memicu sentimen negatif, ucap Anton kepada INILAH.COM.
Pendapat ini diungkapkan menyikapi pernyataan Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono. Sebelumnya Hartadi memprediksikan bahwa cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2009 bakal menyusut, dibandingkan akhir Mei 2009 sebesar US$ 57,9 miliar.
Sepanjang Juni, BI mencatat utang luar negeri swasta yang jatuh tempo mencapai US$1,9 miliar. Sedangkan pembayaran utang luar negeri pemerintah mencapai Rp95 triliun.
Menurut Anton, penyusutan devisa bulan Juni 2009 tidak akan mencapai US$ 2 miliar. Dengan prediksi penurunan sekitar US$ 1 miliar, misalnya, maka cadangan devisa masih sebanyak US$ 56,9 miliar.
Angka itu jika dibandingkan dengan import cover dan debt cover masih cukup untuk 5 sampai 6 bulan. Masih okelah, tuturnya.
Import cover dan debt cover adalah berapa bulan cadangan devisa yang digunakan untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri. Ada pun titik kritisnya adalah 3 bulan atau sebesar US$ 30 miliar. Pada level itu, pasar sudah mulai panik, imbuhnya.
Meskipun mengakui cadangan devisa lebih tinggi memang lebih baik, namun angka di atas level US$50 dinilainya aman. Apalagi pada kondisi pasar saat ini cukup tenang. Kalau masih di atas angka US$ 50, masih oke, tandasnya.
Bahkan, BI cenderung lebih konservatif. Menurut Anton, otoritas moneter itu sudah mulai hati-hati pada saat cadangan devisa hanya cukup untuk 4 bulan import ataupun debt cover pada kisaran cadangan devisa sebesar US$ 44 miliar.
Dikhawatirkan sentimen negatif terhadap perekonomi dimulai dari level ini. Walaupun secara teoritis standar yang digunakan adalah 3 bulan import dan debt cover, pungkasnya.
Cadangan devisa sendiri sebenarnya bergerak fluktuatif dari bulan ke bulan. Hal ini didukung volatilitas harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di level US$70 per barel. Kalau harga minyak naik lagi, cadangan devisa bertambah, katanya.
Terkait menyusutnya cadangan devisa, Anton menyarankan agar pemerintah menggenjot produksi minyak dalam negeri, terutama untuk yang diekspor. Cara lain untuk mengantisipasi berkurangnya cadangan devisa, adalah dengan mengerem intervensi bank sentral terhadap pergerakan rupiah. Cara-cara ini dapat menambah cadangan devisa kita, ucapnya.
BI disarankan tidak mengintervensi nilai tukar rupiah kalau tidak urgent. Menurutnya, cadangan devisa bisa saja tetap bertambah dalam keadaan rupiah stabil. Asalkan BI tidak perlu mengintervensi nilai tukar rupiah dengan menjual dolar.
Sedangkan jika terjadi penguatan rupiah yang terlalu cepat, lanjutnya, BI bisa membeli dolar untuk menumpuk cadangan devisa. Walaupun sasarannya bukan semata-mata cadangan devisa, melainkan kestabilan nilai tukar rupiah, tukasnya.
Anton menambahkan, bilateral swap dengan negara lain yang sudah disetujui juga bisa dicairkan untuk menambah cadangan devisa. Menurutnya, BI bisa meminta pemerintah untuk mencairkan pinjaman, sehingga tekanan terhadap rupiah masih bisa terkendali.
Tapi untuk saat ini, cadangan devisa masih banyak untuk menopang rupiah. Begitu juga dengan pasar saham, pungkasnya. [E2/P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !