INILAH.COM, Jakarta - Juru bicara Kepresiden Andi Mallarangeng menyebut 'ada waktunya' untuk orang Sulsel menjadi Presiden. Pernyataan tersebut dianggap kontraproduktif, karena disinyalir dapat menurunkan elektabilitas SBY.
"Jelas itu akan menhancurkan dan setidaknya itu mungkin akan membuat turun elektabilitasnya. Khususnya di Sulawesi," sebut Direktur Eksekutif LIMA Ray Rangkuti usai nonton bareng debat capres putaran terakhir di Omah Sendok, Jakarta, Kamis (2/7).
Mantan Sekjen KIPP ini menyayangkan pernyataan Ketua DPP Partai Demokrat itu. Karena dapat menyinggung masyarakat Makassar, terlebih lagi suku Bugis. Apalagi, masyarakat di Makassar melakukan protes keras terkait hal tersebut.
"Dan tadi kelihatan kan, Pak JK juga agak kesel. Sampai-sampai dia mengungkapkan bahwa di bangsa ini tidak boleh ada pembedaan-pembedaan. Dan semua itu adalah sama," terang Ray yang bernama lengkap Ahmad Fauzi.
Pada Rabu 1 Juli kemarin di GOR Mattoanging, Makassar, anggota timkamnas SBY-Boediono, Andi Alfian Mallarangeng, menyampaikan pepatah berbahasa Bugis dan Makassar, "Maradeka to ugi'e, ademi ri popuang. Orang Bugis merdeka, hanya adat yang dipertuan. Hanya hukum, prinsip, dan nilai yang dipertuan. Bukan kekuasaan, bukan orang per orang. Itu dalam konteks mengapa saya memilih SBY, yang saya anggap terbaik sebagai pemimpin bangsa."
Selanjutnya Andi mengatakan, "Lalu bagaimana dengan orang Sulawesi Selatan? Ada waktunya masing-masing. Masa depan masih panjang dan banyak anak Sulsel yang bisa memimpin bangsa ini suatu ketika."
Pernyataan Andi yang dianggap berpendapat belum saatnya orang Sulsel menjadi presiden ini menuai badai protes dan kecaman karena dianggap rasialis. Andi dituntut meminta maaf, begitu pula dengan SBY selaku penanggung jawab timkamnas. [jib]