INILAH.COM, Jakarta - Tim Pemenangan SBY-Boediono kembali membuat blunder politik yang berdampak pada penurunan pamor kandidatnya. SBY harus menyelamatkan diri dengan cara memecat semua tim bayonetnya yang merugikan, termasuk insiden etnis yang dilakukan Andi Mallarangeng.
"Jika tidak memecat Andi Mallarangeng sebagai anggota timkamnas paling tidak publik menunggu SBY bisa mengambil langkah klarifikasi atau mengambil tindakan tegas terhadap Andi dan tidak usah dibela," kata pakar marketing politik UI Firmanzah kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (3/7).
Jika SBY tidak mengklafirikasi, tutur Dekan FE UI ini, tidak salah jika kemudian masyarakat menilai SBY memang seperti yang digambarkan tim kampanyenya. SBY, menurut dia, sebaiknya langsung mengambil langkah tegas seperti ketika ia memutuskan untuk mencopot Ruhut Sitompul sebagai anggota timkamnas SBY-Boediono.
"Ini kan sudah beruntun terjadi. Bisa rusak citra SBY karena hal seperti ini. Oleh karena itu SBY harus mengklarifikasi dalam kampanye terbuka. Apa hal yang dikatakan juru-juru kampanyenya itu memang pemikiran dia atau tidak," ujarnya.
Ini bisa menjadi blunder karena politik santun yang digaung-gaungkan tim SBY-Boediono berbeda dengan prakteknya di lapangan. Pernyataan berbau SARA ini merupakan pernyataan yang ketiga kalinya yang dicatat dan terekam masyarakat dalam Pemilu 2009 ini.
Sebelumnya Ruhut Sitompul yang mengeluarkan pernyataan mengenai orang Arab, Rizal Malarangeng yang terlalu memblow-up isu katolik istri Boediono, dan kini Andi Mallarangeng. Saat ini menurutnya tim kampanye SBY-Boediono seharusnya lebih fokus berbicara mengenai program pemerintahan SBY ke depan dan bukan mengenai hal-hal yang berbau SARA.
"Seharusnya tim lebih banyak bicara tentang program bukan tentang suku dan ras. Tidak usahlah mengeluarkan pernyatan yang seperti ini. Saya kasihan sama SBY saja, harus mengalami segala tantangan yang sebenarnya tidak perlu ada karena tantangan itu tercipta justru oleh timnya sendiri," pungkasnya.[ikl/jib]