inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Diam SBY Benarkan 1 Putaran Ilegal

Headline
Burhanuddin Muhtadi - inilah.com
Oleh: Raden Trimutia Hatta
Jumat, 3 Juli 2009 | 08:41 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Dalam final debat capres, JK menyentil SBY soal iklan pilpres satu putaran bertentangan dengan demokrasi. SBY pun terdiam saat JK menyatakan iklan tersebut ilegal. Diamnya SBY itu dapat diartikan bila SBY membenarkan iklan satu putaran itu ilegal.

"Diamnya SBY berarti membenarkan bahwa iklan gerakan pilpres satu putaran saja milik Denny JA itu tidak terdaftar," ujar peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (3/7).

Menurutnya, perdebatan yang meruncing antara SBY dan JK soal iklan satu putaran itu menjadi hal yang menarik dicermati dalam debat final yang diselenggarakan di Balai Sarbini, Kamis (2/7) malam. Pernyataan JK yang menganggap iklan satu putaran itu ilegal setelah SBY membantah itu adalah iklan miliknya, merupakan bagian penting dalam perdebatan.

"Saya setuju sekali iklan Denny JA itu disebut JK sebagai iklan ilegal. Meski timses SBY bisa saja berdalih bahwa inisiatif Denny itu bagian dari partisipasi publik. Di samping itu, gerakan pilpres 1 putaran malah jadi blunder buat SBY, karena mendorong rekonsolidasi kekuatan lawan-lawan SBY," jelas Burhan.

Dalam debat final yang membahas soal 'NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah' itu, JK mengkritik iklan ajakan pilpres satu putaran yang katanya dapat menghemat Rp 4 triliun. Menurut JK, demokrasi tak bisa dinilai dengan uang. SBY yang merasa tersentil langsung buru-buru mengklarifikasi bila iklan tersebut bukan merupakan iklan miliknya.

Pernyataan SBY langsung disambut sengit oleh JK dengan mengajukan pertanyaan kembali ke SBY, "Jadi iklan itu ilegal, iklan itu bukan milik bapak kan?" Mendengar pertanyaan itu pun SBY langsung terdiam dan menundukkan kepalanya. [mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
6 Komentar
andy laisdy @ Jumat, 3 Juli 2009 | 13:26 WIB
begitulah sikap president kita.tak pernah mau mengakui hal2 yg dianggap buruk,dan hanya mau mengakui yg bagus2 saja.
Fans Umar bin Chatab @ Jumat, 3 Juli 2009 | 10:39 WIB
Setelah mengikuti debat capres tadi malam, saya sangat mendambakan reaksi Partai (dakwah?) Keadilan Sejahtera seperti ini : Karena Soesilo Bambang Yudoyono telah melakukan KEBOHONGAN PUBLIK dan berlaku sebagai orang MUNAFIK, maka PKS mengundurkan diri dari koalisi Partai Demokrat. Tapi aoa saya mimpi ya?
inilah.com @ Jumat, 3 Juli 2009 | 09:33 WIB
Cuma mau memberikan satu petuah orang zaman dulu neh "Janganlah kalian mencintai seseorang dengan sepenuhnya sehingga menutupi hati kalian dari kebohongan, kejahatan, dan hal-hal tidak baik lainnya yang telah dilakukan orang tersebut" dan "Janganlah kalian membenci seseorang dengan sepenuhnya, sehingga menutupi hati kalian dari menerima hal-hal baik yang telah dilakukan orang tersebut kepada kalian." tapi "Cintailah Tuhan kalian dengan sepenuhnya karena cinta Tuhan kepada kalian akan kekal abadi. Cinta yang tidak dapat dihalangi oleh apapun. Cinta yang membuat kalian bahagia dunia dan akhirat."
aa hadi @ Jumat, 3 Juli 2009 | 09:26 WIB
hemat boleh, tapi demokrasi gabisa di seting, biar rakyat yang menentukan. kalo diseting jadi aja negeri indonesia menjadi republikimpian
Avgan @ Jumat, 3 Juli 2009 | 09:01 WIB
Terdiam dan tertunduk... Itulah reaksi kalau orang terpojok karena kebohongannya terbuka didepan mata dan telinga puluhan juta rakyat. Insya Allah rakyat sudah pandai dan tidak akan memilih pemimpin yg suka melakukan kebohongan publik.
imanuel,SH @ Jumat, 3 Juli 2009 | 08:55 WIB
Ah, itu adalah hal biasa. Memang lebih baik Pilpres itu satu putaran. Lebih Hemat dan efisien. Lebih baik uang 4 triliun itu digunakan untuk perbaikan , peningkatan kesejahteraan rakyat miskin.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.