INILAH.COM, Jakarta - Iklan satu putaran memang ditampik SBY sebagai iklan miliknya. Namun, karena iklan itu sudah terlanjur melekat dengan diri SBY, maka berdasarkan data Lembaga Survei Indonesia (LSI) elektabilitas SBY mengalami penurunan.
"Iklan satu putaran yang digerakkan Denny JA telah membangunkan macan tidur karena mendorong rekonsolidasi kekuatan lawan-lawan SBY. Buktinya tren elektabiltas SBY malah turun pasca Denny dan kawan-kawannya mengampanyekan gerakan satu putaran itu," ujar peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi kepada INILAH.COM, Jakarta, Jumat (3/7).
Dari data survei LSI terakhir menunjukkan, dalam tempo 20 hari, SBY-Boediono mengalami penurunan sebesar 3%, dari 7o% ke 67%. Mega-Prabowo cenderung stagnan dikisaran 16%, sedangkan JK naik dari 7% menjadi 9%.
Burhan mengatakan, selain karena iklan satu putaran, blunder politik tim kampanye SBY-Boediono yang dikendalikan oleh Mallarangeng bersaudara juga akan berpotensi besar kembali menurunkan elektabilitas SBY. Sebab, migrasi pemilih rasional SBY ke JK karena adanya konsolidasi pendukung primordial JK di Sulsel.
"Sentimen-sentimen Mallarengeng potensial membuat terjadinya konsolidasi kekuatan JK yang berbasis kesukuan. Blunder yang dilakukan Mallarangeng soal orang Bugis mempunyai peluang menurunkan elektabilitas SBY. Itu membuat citra SBY sedikit tercotreng terutama di konteks Sulawesi Selatan," ungkapnya.
Belakangan ini, sambungnya, suara JK hampir melampaui SBY di Sulsel dan dengan adanya kontroversi Mallarengeng bukan tidak mungkin suara JK bisa melampaui SBY. "Catatan untuk tim SBY, agar tidak terlalu mengeluarkan kontroversi yang tidak perlu menjelang 8 Juli ini, lebih baik bermain aman dari pada memancing blunder," pungkasnya. [mut]