INILAH.COM, Jakarta - The Master ternyata sudah menjadi mimpi Deddy Corbuzier sejak kecil. Deddy yang memulai modal lima alat sulap, kini sudah mampu mempopulerkan ajang pencarian bakat magician The Master.
Popularitas The Master mampu mengalahkan ajang pencarian bakat idola-idola lainnya. Tak lantas puas, Deddy sudah siap dengan The Master Junior. Wow...
Atas pencapaian ini, INILAH.COM pun berbincang-bincang dengan Deddy, di Taman Kodok RCTI, Jalan Perjuangan Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, baru-baru ini.,
Dalam kesempatan itu, Deddy sedikit banyak menceritakan tentang mimpi kecilnya yang terwujud. Berikut petikan wawancaranya.
The Master sepertinya membawa berkah untuk Anda?
Kalau saya pribadi, sih bukan membawa berkah. Kalau popularity sih pasti ya.
Kalau bicara popularity saya sudah 11 tahun di teve, tapi efeknya mengingatkan
oranglah. Tapi kalau buat sulapan, pastinya jadi gilalah.
Berarti The Master atau sejenisnya, harus selalu menjadi pioner?
Ya, semua pesulap pengen berada di The Master. Lantas, yang saya lihat dari perkembangan anak-anak belajar sulap, kalau dulu berlajar sulap dimarahi orang tua. Sekarang anak-anak itu malah didukung untuk belajar sulap.
Wah, berarti optimistis dengan penayangan The Master Junior yang tayangan perdananya, Minggu (5/7) besok, pukul 17.3O WIB?
Jujur saja saya pesimistis ketika The Master Junior mengadakan audisi. Saya pikir siapa yang mau datang? Ternyata yang datang ada sekitar 50 orang anak-anak, kecil-kecil.
Gilanya, anak-anak kecil ini kalau sudah main sulap. Indonesia sendiri kan, sudah
gila.
Maksud Anda, kata lainnya gila, idol atau idola begitu?
Kalau saya bilang sudah menjadi sebuah idol , acara kita ini mangalahkan acara-acara Indonesian Idol, dsb. Rating dan share sudah ngalahin.
Kalau dulu anak-anak pada belajar gitar dan nyanyi, tapi sekarang anak-anak sudah
belajar sulap. Bukti lain, toko-toko alat sulap itu lakunya beberapa puluh kali lipat di bandingkan dulu.
Perasaan Anda sepertinya senang sekali?
Saya sih, senang saja dengan fenemona ini. Tetapi saya yakin ini tidak akan untuk selamanya, kaya fenomena Inul. Bisa mencapai tahap di sana ya, disyukurilah. Paling tidak cita-cita saya sudah kesampaian. Seni sulap sudah diakui oleh masyarakat dan layak di tonton.
Jadi, cita-cita jadi Magician benar-benar dari kecil, nih?
Saya dari usia delapan tahun nonton teve. Waktu itu ada pesulap di Amerika, namanya
Mark dan dia main tali dipotong jadi dua. Saya tanya ibu saja, bagaimana caranya?
Dan terus saya beli buku sulap. Tapi saya mau beli buku sulap atau alat sulap itu
dilarang oleh ayah saya.
Jadi intinya begini, kalau dulu beli alat sulap seharga Rp100.000 nggak boleh, tapi kalau beli organ seharga Rp500.000 boleh. Tapi saya punya lima mainan alat sulap. Itu terus yang saya mainkan. Jadi akhirnya
saya lebih menekuninya. Hasilnya, ya saya yang sekarang ini. [aji/L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !