INILAH.COM, Teheran Seorang wartawan Newsweek yang ditangkap di Teheran mengaku telah mendapat titipan pemerintah negara-negara Barat. Sehingga, dia membuat laporan palsu mengenai keadaan di Iran.
Maziar Bahari, 42, demikian wartawan itu, membuat pengakuan itu dalam sebuah konferensi pers, yang digelar beberapa hari lalu. Namun, tak ada satupun media Barat yang meliputnya karena adanya pembatasan dari pemerintah Iran.
Kantor semi resmi Iran Fars, seperti dikutip CNN, Kamis (2/7), menyebutkan, wartawan keturunan Kanada dan Iran itu bekerja untuk BBC dan televisi Inggris Channel 4. Dia mengaku telah membuat berita palsu bagi Newsweek selama digelarnya Pilpres Iran. Hal itu juga yang membuat media itu dilarang beredar di Iran.
Media Barat adalah bagian dari mesin kapitalis pemerintah demokrasi liberal negara-negara Barat, kata Bahari.
Saat seorang wartawan media Barat datang ke Iran, lanjutnya, dia harus menjadi seoarng politisi atau spesialis yang menyesuaikan dengan kebijakan Barat. Dia harus menyesuaikan kepentingan Barat dalam setiap kesempatan untuk melawan Iran, paparnya.
Dia juga menyebut, wartawan Iran sering tergoda tawaran uang dari kantor berita Barat untuk bekerja bagi mereka. Sangat disayangkan, kadang kami terjebak akibat keserakahan karena jebakan orang asing, katanya, dalam pernyataan yang dilansir Fars.
Namun, Kepala Biro Newsweek Paris Chris Dickey meragukan pengakuan itu. Sebab, Bahari dinilainya sebagai wartawan senior dan selama ini dikenal tidak pernah terindikasi melenceng dari tugasnya sebagai jurnalis. Dia salah satu reporter terbaik di bidang bisnis, kata Dickey.
Bahari, terang Dickey, juga tidak diizinkan berbicara dengan pengacara ataupun keluarganya sejak tertangkap 21 Juni lalu. [nuz]