inovasi portal berita
Kamis, 9 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,910.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Menanti Berkah Inflasi

Headline
Foto/ Bayu Suta
Oleh: Bastaman & Asteria
Jumat, 3 Juli 2009 | 15:13 WIB
INILAH.COM, Jakarta Bank Indonesia (BI) memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin. Penurunan suku bunga acuan untuk kedelapan kalinya sejak September 2008 itu pun diyakini akan menggairahkan kembali transaksi saham di lantai bursa.

Demikian ungkap Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing. Menurutnya, turunnya BI rate ini juga akan memacu penyaluran kredit perbankan, sehingga sektor riil kembali berputar. Bergeraknya sektor riil ini akan memicu bergairahnya pasar saham di Indonesia, ujarnya.

BI dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) siang ini mengambil kebijakan menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%. Keputusan itu diambil di tengah laju inflasi yang membaik dan indikasi perbaikan ekonomi.

Pemangkasan BI rate ini sejalan dengan asumsi sejumlah analis. Peluang diturunkanya BI Rate memang cukup besar, mengingat tingkat inflasi bulan Juni tercatat 0,11%, sehingga inflasi year on year (Juni 2008-Juni 2009) hanya 3,65%.

Beberapa faktor positif yang mendukung penurunan BI rate adalah pertumbuhan ekonomi triwulan dua 2009 sebesar 3,4-4%, nilai tukar rupiah yang akan stabil dan CAR perbankan nasional yang membaik ke 17% dan NPL yang masih di bawah 5%. Selain inflasi yang terus melunak yakni year to date 2,1%, dan prediksi inflasi ke depan di kisaran 5-7%.

Menurut Pardomuan, gerak lapang BI atas suku bunganya juga didukung kebijakan penurunan harga BBM sebanyak dua kali pada Desember 2008 kemarin, yang mengurangi tekanan pada inflasi.

Stimulus ekonomi ini akan menjadi pegangan para investor untuk kembali masuk ke pasar saham dan mengangkat indeks saham di Bursa Efek Indonesia, katanya.

Rendahnya suku bunga dan inflasi membuat pelaku pasar melepas dolar dan kembali masuk bursa. Kondisi ini akan membuat tekanan terhadap rupiah berkurang. Para analis pun memperkirakan, di hari-hari mendatang, indeks akan berfluktuasi di level 2.036-2.072. Lantas, dalam situasi seperti sekarang, saham apa yang layak dimainkan investor?

Selain pertambangan, perbankan, dan telekomunikasi, para analis merekomendasikan investor untuk menggoleksi saham ritel. Sebab, rendahnya inflasi memberikan berpengaruh positif terhadap bisnis ritel.

Di paruh kedua tahun ini, penjualan ritel diyakini akan meningkat. Apalagi hari liburan anak-anak sekolah telah tiba. Biasanya, 40% pendapatan emiten ritel diperoleh ketika ada momen besar, kata seorang analis. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.