Jumat, 25 Mei 2012 | 20:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mallarangeng 'Gerogoti' Suara SBY
Headline
Andi Alfian Mallarangeng - Foto/ Subekti
Oleh: Raden Trimutia Hatta & Vina Nu
web - Sabtu, 4 Juli 2009 | 11:28 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Polemik seputar ucapan Andi Alfian Mallarangeng terkait SARA terus bergulir. Selain dianggap blunder besar menjelang pemungutan suara, langkah Ketua DPP Partai Demokrat itu ternyata menjatuhkan pamor SBY. Citra SBY kian memudar seiring waktu.

Pada 1 Juli di GOR Mattoanging, Makassar, anggota timkamnas SBY-Boediono itu menyampaikan pepatah berbahasa Bugis dan Makassar, "Maradeka to ugi'e, ademi ri popuang (orang Bugis merdeka, hanya adat yang dipertuan). Hanya hukum, prinsip, dan nilai yang dipertuan. Bukan kekuasaan, bukan orang per orang. Itu dalam konteks mengapa saya memilih SBY, yang saya anggap terbaik sebagai pemimpin bangsa."

Andi pun menambahkan, "Lalu bagaimana dengan orang Sulawesi Selatan? Ada waktunya masing-masing. Masa depan masih panjang dan banyak anak Sulsel yang bisa memimpin bangsa ini suatu ketika."

Pernyataan Andi yang dianggap berpendapat belum saatnya orang Sulsel menjadi presiden ini menuai badai protes dan kecaman karena dianggap rasialis. Andi dituntut meminta maaf, begitu pula dengan SBY selaku penanggung jawab timkamnas.

Tidak hanya masyarakat Sulsel, Relawan SBY pun memprotes sikap arogan Andi yang mencoreng citra SBY. "Kami sangat menyayangkan perkataan Andi Mallarangeng. Sebaiknya itu tidak diungkapkan karena merusak citra SBY," ujar Sekjen Gerakan Lanjutkan SBY Presiden (GLSP) Rocky Amu.

Dugaan adanya motif pribadi pun menyeruak. Pengamat politik Universitas Sam Ratulangi, Mahyudin Damis menduga Andi mengincar posisi politik tertentu. "Tetapi kalau nantinya ingin menjadi Capres mewakili Sulsel melalui Partai Demokrat masih sulit, masih ada anak SBY seperti Edy Baskoro Yudoyono dan tokoh muda, Anas Urbaningrum," urai Mahyudin.

Mahyudin mengaku heran dengan sikap Jubir SBY tersebut. Sebab, pria berkumis tebal itu menyandang gelar doktor di bidang politik. "Tidak habis pikir, seorang ahli ilmu politik muda asal Bugis rela mengorbankan identitas nenek moyangnya dalam era otonomi daerah saat ini. Demi uang dan kekuasaan sesaat jati diri suku bangsanya dijual murah," keluh Mahyudin.

Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, Prof Syamsuddin Haris menjelaskan lontaran Andi tersebut merupakan bentuk kekonyolan dan ketidakcerdasan dalam dunia akademik. Sebab, siapa pun bisa menjadi presiden, tanpa memandang suku, agama, dan waktu.

"Saya sebetulnya menginginkan SBY memaksa Andi Mallarangeng meminta maaf. Sebab bisa jadi bumerang suara SBY di Sulsel. Apalagi minggu besok akan memunculkan hasil survei LSI," tegas Haris.

Menurutnya, meski sudah meminta maaf, SBY diprediksi masih akan kesulitan untuk menahan laju perpindahan suara ke kubu JK. "Minimal hanya menahan laju perpindahan pilihan, yang asalnya dari SBY berbondong-bondong ke JK, paling menahan itu," tandas Haris.

Peneliti senior LSI Burhanuddin Muhtadi memperkirakan penambahan dukungan JK ke depan lebih dikarenakan adanya dukungan kesukuan dan melorotnya dukungan SBY akibat blunder Mallarangeng. "Sentimen-sentimen Mallarengeng potensial membuat terjadinya konsolidasi kekuatan JK yang berbasis kesukuan. Blunder yang dilakukan Mallarangeng soal orang Bugis mempunyai peluang menurunkan elektabilitas SBY. Itu membuat citra SBY sedikit tercoreng terutama di konteks Sulawesi Selatan," ungkapnya.

Bahkan, Kepala Riset Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi SBY berpotensi kehilangan suara dari masyarakat Sulawesi Selatan sebesar 48 persen. Pernyataan Andi yang terkesan rasis itu dapat mempengaruhi imej SBY sebagai capres santun.

"Dari survei terakhir kami pada bulan Juni ini, memang menunjukkan pemilih SBY di Sulawesi Selatan itu sebesar 48,7%. Dengan adanya pernyataan Andi Mallarangeng itu memiliki potensi menghilangkan suara SBY di Sulsel," ujar Purbaya.

Sejatinya, elit yang berpikiran diskriminatif dan menonjolkan SARA dipinggirkan dalam pemerintahan ke depan. Sebab, keberadaan tokoh tersebut hanya akan menimbulkan diskriminasi politik terhadap warga negara ataupun suku tertentu. "Pemerintahan demokratis di Indonesia tidak boleh diisi dan dijalankan oleh pejabat publik yang berpikir, bersikap dan bertindak serta melakukan diskriminasi politik terhadap warganegara atau suatu suku bangsa tertentu," tegas analis politik M Fadjroel Rahman. [L4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
11 Komentar
Amal Ahsan SB
Selasa, 7 Juli 2009 | 21:26 WIB
TERIMA KASIH BAPAK ANDI MALLARANGENG... STATEMEN ANDA MENGINGATKAN SAYA AKAN UNGKAPAN MAKASAR DULU: BILA GOWA MEMANGGILMU MAKA BERTERIAK LAH ORANG MANDAR KAMI AKAN DATANG... DARI LAUT, DARI GUNUNG...UNTUK MEMBELA TANAH GOWA... SAYA PENGAGUM PAK SBY,TAPI KATA KATA ANDA MENYADARKAN BAHWA TANAH MAKASSAR MEMANGGIL UNTUK MEMILIH PUTRANYA SENDIRI...
wawan
Senin, 6 Juli 2009 | 19:35 WIB
2 PUTARAN OK.... SAYA SETUJU 2 PUTARAN...BIAR KITA PUAS SIAPA YANG LAYAK JADI PEMIMPIN....
caco'
Senin, 6 Juli 2009 | 12:13 WIB
Kalau sudah gugup, nda usah bicara. Karena dengan banyak akan banyak salahnya. Tolong, Persatuan dan Kesatuan Bangsa ini jangan di gadaikan dengan jabatan Mentri atau jabatan lainnya.Maaf, kami menjadi kurang simpati lagi dengan Pa Andi Alfian Malanrangeng
hajime
Minggu, 5 Juli 2009 | 12:43 WIB
@HARRI Kalau kamu tidak paham tata peribahasa bugis Makassar, kamu jangan dulu anggap pernyataan Andi Malarangeng itu biasa saja, karena maknanya emang mengecilkan saudara sekampung untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Kalau suku bugis makassar tidak boleh menjadi pemimpin bangsa, tidak boleh berperan serta dalam demokrasi, sekalian saja, keluarkan Sulawesi dari kesatuan NKRI. Ok?
dale s
Minggu, 5 Juli 2009 | 03:30 WIB
Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh jua
tulalit
Minggu, 5 Juli 2009 | 02:58 WIB
orang fanatik SBY macam HARRY ini memang sudah dicuci otak. Biar SBY datang menggal kepala bapaknya Harry dengan celurit, Harry akan tetap berkata "Saya tetap dukung SBY karena SBY itu santun, walaupun dia memenggal kepala ayah saya".
andi garcia
Sabtu, 4 Juli 2009 | 17:27 WIB
mgkn kumis tebal bung alfian sudah menyerap kesadaran dia terhadap darah bugis yg mengalir di tubuhnya. dia lupa kalau kita tak akan bisa kmana-mana dgn darah dan leluhur ini....seenaknya ngebacot ngomongin etnis orang.... saya yg udah campuran kuba aja masih tetap memakai gelar andi saya di depan nama saya
Yono
Sabtu, 4 Juli 2009 | 13:20 WIB
SdraQ. Kl dh banyak yg njelek2in, it tndax em JELEK...Tw kn, ktx UTANG dh lunas trnyata BLM...Banyk Keberhslan yg d klaim SBY...trnyta upaya JK... A.A. Mallarangeng it, kl ga SBY ga ad yg pake...mkx qt jangan heran...
Amin
Sabtu, 4 Juli 2009 | 12:54 WIB
apa yang dikatakan pengamat dalam hal ini adalah obyektif,krn masyarakat sul-sel dengan pasti gak akan memilih SBY kalo toh ada paling 0,1%-0,5%.-
SUNDALAKNU HARRY
Sabtu, 4 Juli 2009 | 12:29 WIB
Kalau anda @herry ngak tau arti dari bahasa bugis jangan asal bacot lho..perkataan andi yg di keluarkan dalam bahasa bugis itu artinya : orang bugis tidak bisa jadi pemimpin karena sifatnya yg di pertuan (Hanya kekuasaan) dan inilah yg memancing amarah orang sulsel..yang artinya di bedakan dalam bahasa indonesia..sekali lagi kalau anda tidak ngerti jangan asal bacot
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.