Kamis, 24 Mei 2012 | 06:44 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inflasi & BI Rate Dongkrak Indeks Sepekan
Headline
Foto/Bayu Suta
Oleh: Wahid Ma'ruf
web - Sabtu, 4 Juli 2009 | 07:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini dipengaruhi oleh ekspektasi pengumuman inflasi dan hasil rapat Dewan Gubernur BI tentang BI rate serta pilpres berjalan lancar.

Hal itu diungkapkan pengamat pasar modal David Cornelis kepada INILAH.COM, kemarin. "Untuk pekan ini dipengaruhi ekspektasi pengumuman inflasi bulan Juni dan penurunan BI rate serta ekspektasi pilpres," katanya.

Gabungan sentimen tersebut membuat IHSG menahan tekanan dari sentimen negatif yang berasal dari bursa global dan regional. Sebab pada pekan ini, beberapa data ekonomi dari AS juga dipublikasikan yang mempengaruhi pasar saham dunia. Data tersebut seperti data penjualan perumahan dan jumlah pengangguran AS. Apalagi pergerakan harga minyak dunia yang tetap berpengaruh bagi pasar saham.

Bahkan pada awal pekan ini IHSG ditutup melemah tipis minus 6,47 poin di level 2.033 karena investor cenderung wait and see sehingga indeks mengalami sideways. "IHSG masih sideways karena minimnya sentimen dari dalam negeri hanya sentimen inflasi dan BI rate," kata analis saham Paramitra Alfa Sekuritas, Pardomuan Sihombing.

Pelaku pasar banyak yang bersikap wait and see karena faktor eksternal juga belum ada yang mendukung penguatan. Volume perdagangan menjadi sangat kecil. Hal ini kemungkinan sampai pelaksanaan pilpres 8 Juli nanti.

Sentimen positif mulai muncul setelah hari Selasa (30/6) harga minyak merangkak naik ke US$ 71 per barel. Hal ini mendorong kenaikan indeks Dow Jones 90,00 poin ke level 8.529.

Namun sentimen tersebut hanya mendorong kenaikan tipis bursa regional sehingga IHSG yang sudah naik 6 poin tergulung oleh aksi ambil untung. Investor lagi-lagi menunggu sentimen positif yang datang. Akhirnya harapan muncul dari keluarnya data riset terhadap sentimen konsumen. Kepercayaan konsumen sangat mencuri perhatian karena aksi belanja menyumbang 2/3% pada aktivitas ekonomi AS.

Jumlah kepemilikan rumah pada dua bulan belakangan, meningkat pada kuartal I dibanding kuartal II, Departemen Keuangan AS menyatakan peningkatan terjadi karena debitur memiliki tingkat kredit yang baik.

Sentimen tersebut digabung dengan keluarnya data BPS tentang inflasi bulan Juni yang hanya 0,11%. IHSG juga terdongkrak dengan adanya crossing atau tutup sendiri saham BCA yang dilakukan Farallon melalui Credit Suisse menjual saham BCA ini Rp100 lebih rendah dibanding harga kemarin di Rp3.525 menjadi Rp3.425.

Total nilai transaksi perdagangan saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I siang tadi mencapai Rp4,52 triliun. Saham BCA sendiri menyumbang Rp3,53 triliun di pasar negosiasi, sedang di pasar reguler sebesar Rp981,35 miliar.

IHSG pada Rabu (1/7) menunjukkan penguatan meskipun sebagaian bursa regional dan global melemah. Dow Jones saat ini masih melemah, demikian juga dengan Hangseng walaupun masih di bawah minus 1%. Investor pun menganggap bahwa inflasi masih bisa terkendali sehingga melakukan pembelian lagi sehingga IHSG naik 33,10 poin di 2.059.

"Dengan hasil inflasi yang diumumkan BPS sebesar 0,11% masih sangat rendah sehingga investor menanggapi secara positif sehingga mereka melakukan pembelian lagi," kata analis saham Bhakti Securities, Reza Nugraha.

Dengan inflasi yang sesuai harapan maka penguatan masih dapat dipertahankan sampai penutupan. Volume perdagangan mencapai 4,38 miliar lot saham senilai Rp 2,14 triliun.

Secara keseluruhan, sentimen yang datang dari dalam negeri cukup dapat menopang IHSG dari tekanan yang datang dari eksternal. Untuk sentimen inflasi 0,11% dan BI rate turun menjadi 6,75% menjadi pegangan kalau ekonomi Indonesia masih terjaga dengan baik. Hal ini mengundang investror asing untuk lebih percaya dengan rencahnya risiko ekonomi Indonesia.

Belum lagi ekspektasi hasil pilihan presiden yang akan dilakukan pada 8 Juli 2009. Investor tidak mempermasalahkan kalaupun terjadi dua kali putaran. Sebab bagi investor yang terpenting tidak terjadi gejolak sosial semua pihak menerima hasil pilpres. Volume perdagangan diperkirakan akan naik setelah ada kejelasan pemenang pilpres nanti.

"Pasar tidak mempermasalahkan berapa putaran yang akan terjadi dalam pilpres nanti, yang penting aman tidak terjadi gejolak," jawab David Cornelis. [hid/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.