INILAH.COM, Pontianak - Setelah insiden penendangan yang dialami wartawati Sinar Harapan Adeodata Julia Vanduk, kini giliran wartawan Harian Borneo Tribune Pontianak, Rizky Wahyuni. Rizky menjadi korban kekerasan saat meliput kedatangan Cawapres Boediono.
Setelah kejadian itu, Rizky melapor ke Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Pontianak. Korban terlihat mengalami luka lebam di pipi kirinya saat ditemui wartawan di ruang pemeriksaan Poltabes Pontianak, Jumat (3/7).
Menurutnya, aksi pemukulan oleh oknum anggota pengamanan cawapres nomor dua tersebut, terjadi saat hendak mewawancarai.
Kronologisnya, Boediono tiba di Hotel Kapuas Palace Pontianak, sekitar pukul 10:30 WIB, Jumat (3/7). Boediono langsung melakukan orasi politik di hadapan pendukungnya. Selesai berorasi pukul 11:30 WIB, Boediono dan rombongan melaksanakan shalat Jumat di Masjid Mujahidin.
Setelah shalat itu, rombongan wartawan cetak dan elektronik lokal berusaha mendekati Boediono yang dikawal petugas keamanan saat melintas di selasar masjid tersebut.
Berdasarkan jadwal, Boediono akan melakukan kampanye serupa di Palembang. Sehingga waktu untuk konferensi pers di masjid tidak ada. Konferensi pers disarankan berlangsung di Bandara Supadio Pontianak.
"Tetapi kami tidak mau kecolongan lagi, dan khawatir disana juga tidak bisa wawancara. Sehingga sambil berjalan berusaha mewawancarai Boediono," katanya.
Cawapres Boediono sempat beristirahat di Sekretariat Masjid terbesar di Kalbar itu. Saat itulah, wartawan diizinkan untuk melakukan wawancara. "Tetapi ternyata hanya perwakilan, ketika saya akan masuk, tidak diperbolehkan lagi," ujarnya.
Menurutnya, saat itulah terjadi saling dorong antara petugas keamanan dan wartawan yang mencoba masuk ruang sekretariat. "Tanpa saya sadari ada seseorang memukul pipi kiri saya," imbuhnya.
Rizky mengakui, akibat pukulan itu, bagian kiri pipinya mengalami lebam. "Kepala saya terasa pusing sehabis dipukul," ungkapnya.
Karena insiden itu, Rizky didampingi sejumlah wartawan yang juga pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pontianak, melapor ke Poltabes Pontianak. Rizky juga menjalani visum.
Seorang wartawan lain, Fahrurrozi dari harian Tribun Pontianak menyatakan pengawalan itu sangat ketat. "Belum menjadi wakil presiden sudah ketat begini. Apalagi kalau sudah jadi," katanya.
Sekretaris AJI Kota Pontianak, Muhlis Suhaeri menyayangkan insiden pemukulan terhadap wartawan itu. Ia menyatakan, wartawan berhak melaporkan insiden itu kepada polisi dan proses hukumnya diserahkan kepada Poltabes Pontianak.
"Kita serahkan masalah ini kepada polisi. Insiden ini terkait dengan pelanggaran Undang-undang Pers. Pelaku pemukulan menghalangi tugas wartawan," pungkasnya. [*/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !