INILAH.COM, Singapura - Harga minyak kembali turun pada perdagangan Jumat (3/7) hingga berada pada level US$ 66 per barel. Sentimen berupa tingginya jumlah pengangguran di Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih menjadi faktor pemicu penurunan tersebut.
Pada pertengahan hari di Eropa, harga acuan kontrak minyak untuk Agustus, turun 16 sen menjadi US$66,57 per barel pada perdagangan elektronik New York Mercantile Exchange.
Jumat ini, AS meliburkan perdagangan di lantai bursanya berkaitan dengan libur Hari Kemerdekaan setempat.
"Kekawatiran baru terhadap ekonomi global, yang terefleksi pada rendahnya ekuitas, adalah sentimen utama pelemahan harga minyak," ujar KBC Market Services Inggris.
KBC juga mengatakan peningkatan simpanan minyak dan stok gasolin AS merupakan fakta lemahnya permintaan energi. "Tidak ada lagi penyokong dari sektor apapun untuk harga minyak," ujar KBC.
Selain itu, tingkat pengangguran yang tinggi seperti yang dilansir Kamis (2/7), akan menjadi penyebab permintaan minyak bergerak perlahan.
Departemen Pekerjaan AS melaporkan jumlah pengangguran pada bulan Juni melebihi harapan yaitu mencapai 467 ribu pekerjaan atau naik sekitar 9,5%. Ini merupakan angka tertinggi dalam 26 tahun belakangan.
Jumlah pengangguran di 16 negara yang menggunakan mata uang Euro juga meningkat dibulan Mei pada angka yang sama, 9,5%.
Dow Jones pun juga melemah 2,6%. Penurunan juga terjadi pada sebagian besar bursa Asia dan Eropa hingga perdagangan Jumat.
Pada perdagangan Nymex, harga gasolin untuk kontrak Agustus turun 0,73 sen menjadi US$ 1,78 per galon. Namun gas alam meningkat 6,4 sen menjadi US$ 3,68 per 1000 kaki kubik.
Sementara di London, harga Brent North Sea tergelincir 27 sen menjadi US$ 66,38 per barel pada ICE Futures. [mre/cms]