INILAH.COM, Jakarta - Curahan hati SBY tentang penggunaan ilmu sihir yang mengganggu dirinya dan keluarganya dianggap sebagai upaya mencari simpati publik. SBY dianggap kembali mencoba munculkan kesan terzalimi, yang dianggap sebagai gaya baru.
"Logikanya memang ini upaya untuk meraih simpati publik. Apalagi konteksnya tepat karena disampaikan di acara majelis zikir. Jadi ya siapa tahu menuai simpati, bahwa saya ini diganggu, saya ini orang yang terzalimi," kata pengamat psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (4/7).
Sikap SBY mengumbar soal gangguan ilmu sihir itu, dinilai Hamdi sebagai tidakan yang tidak perlu. Namun, dikatakan dia, SBY mencoba memberi kesan bahwa dirinya tidak terpengaruh dengan gangguan-gangguan yang bersifat gaib. Meski demikian, curhat SBY juga bisa menimbulkan kesan pengeluh.
"Padahal risiko menjadi pejabat publik, menjadi capres, semuanya akan disorot. Persoalan seperti itu tidak terlalu penting untuk disampaikan ke publik," ujarnya.
Hamdi menjelaskan, curhat SBY juga bisa mengundang banyak penafsiran dari publik. Apalagi yang disampaikan adalah persoalan yang menyangkut keyakinan.
"Harus dicermati apakah itu efektif untuk mendapatkan simpati. Jangan-jangan nanti malah ditafsirkan yang lain. Alih-alih dapat simpati, malah timbul kesan, ini kok presiden percaya klenik," jelas Hamdi. [fiq/jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !