INILAH.COM, Jakarta Ulah Mallarangeng bersaudara tak hanya disesalkan oleh kalangan tim capres non SBY-Boediono. Sepak terjang Mallarangeng juga mendapat sorotan dari kalangan akdemisi. Jika SBY tidak waspada, bisa-bisa impian SBY memenangkan Pilpres 2009 pun bisa terkubur akibat polah Mallarangeng bersaudara.
Menurut pakar marketing politik dari UI, Firmanzah, perilaku Mallarangeng bersaudara justru akan menurunkan elektabilitas SBY. Langkah tanggap SBY menjadi kunci kesuksesan capres incumbent itu mengatasi blunder politik itu. Kalau tidak, maka ulah Mallarangeng bersaudara itu akan menurunkan elektabilitas SBY, kata Firmanzah kepada INILAH.COM, Jumat (3/7) di Jakarta.
Apa sebenarnya argumentasi Firmanzah, sehingga bisa pendapat seperti itu? Berikut ini wawancara lengkapnya:
Bagaimana komentar Anda terhadap pola komunikasi politik duo Mallarangeng yang merasa tidak bersalah, bahkan terus melempar tuduhan ke pihak rival?
Duo Mallarangeng harus lebih dikontrol. Kalau tidak, akan merugikan SBY. Pernyataan Rizal tentang Indonesia Monitor dengan menyebutnya sebagai media comberan, itu kan tidak pantas. Okelah, bisa diperdebatkan, kalau apa yang ditulis memang tidak berimbang. Tapi janganlah menyebut media itu comberan. Alfian Mallarangeng yang menyebutkan orang Bugis tidak layak menjadi presiden, itu juga tidak perlu dinyatakan.
Belum lagi soal iklan pilpres satu putaran. Saya khawatir, kalau pun SBY benar-benar menang dalam satu putaran, maka lawan politik SBY akan beranggapan bahwa ini direkaysa untuk menang satu putaran. Meskipun tidak ada rekayasa misalnya, tetap saja tim sukses SBY menyewa konsultan dan membuat survei dan membuat opini publik untuk membuat satu putaran. Kalau tidak ada iklan itu, SBY menang satu putaran tidak ada masalah sebenarnya. Jadi sebenarnya ada manajemen tim kampanye nasional secara keseluruhan.
Kasus serupa sebenarnya telah terjadi saat Ruhut Sitompul dan Ahmad Mubarok bermanuver. Namun reaksi SBY langsung keras terhadap dua kadernya tersebut. Namun untuk kasus Mallarangeng ini, justru SBY diam seribu bahasa. Kenapa ini?
Saya tidak mau masuk dalam isu yang sifatnya spekulatif. Tapi saya rasa SBY sangat fokus pada debat capres dan kampanye. Nah, di SBY banyak relawan, ini juga terjadi saat Pilpres 2004. Memang saat ini berbeda dengan 2004. Kini SBY incumbent, maka SBY subjek untuk dikritik. Mungkin saat 2004 SBY orang baru, organic, dan belum berkuasa.
Dalam konteks Mallarangeng ini, saya melihat ini juga bentuk kepanikan tim SBY. Padahal, jika melihat elektabilitas SBY masih tertinggi, sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. SBY harusnya lebih hati-hati, karena isu tentang Mallarangeng cukup santer di publik. Misalnya, silakan saja Mallarangeng tetap ada, namun kewenangannya dikurangi. Nah ini kan partai koalisi SBY juga sudah resah, sudah lama gerah tentang Mallarangeng.
Sedemikian ekstremnyakah pernyataan Mallarangeng dengan menurunkan elektabilitas SBY dalam lima hari ke depan?
Apa pun itu akan menambah deretan kekecewaan. Misalnya, SBY menang satu putaran, kita juga tidak ingin seperti di Iran. Seperti kasus DPT yang belum clear, iklan pilpres satu putaran, kemudian juga persoalan rasialis yang diangkat. Nah, kondisi ini kalau dimanfaatkan oleh rival SBY akan berbahaya. Apalagi kalau dimunculkan di media massa. Ini jelas berbahaya bagi SBY. Sehingga elektabilitas SBY akan terpengaruh.
Apakah dengan menonaktifkan Mallarangeng akan membantu SBY dan mengurangi kekhawatiran masalah yang muncul pasca pilpres?
Saya rasa itu akan membantu SBY dan citra SBY sebagai orang yang santun dan tidak menyerang lawan politik itu akan kembali lagi. Semuanya berpeluang kepada SBY. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !