inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Firmanzah

SBY, Tertibkan Mallarangeng!

Headline
Firmanzah - inilah.com /Dokumen
Oleh: R Ferdian Andi R
Sabtu, 4 Juli 2009 | 08:49 WIB
INILAH.COM, Jakarta Ulah Mallarangeng bersaudara tak hanya disesalkan oleh kalangan tim capres non SBY-Boediono. Sepak terjang Mallarangeng juga mendapat sorotan dari kalangan akdemisi. Jika SBY tidak waspada, bisa-bisa impian SBY memenangkan Pilpres 2009 pun bisa terkubur akibat polah Mallarangeng bersaudara.

Menurut pakar marketing politik dari UI, Firmanzah, perilaku Mallarangeng bersaudara justru akan menurunkan elektabilitas SBY. Langkah tanggap SBY menjadi kunci kesuksesan capres incumbent itu mengatasi blunder politik itu. Kalau tidak, maka ulah Mallarangeng bersaudara itu akan menurunkan elektabilitas SBY, kata Firmanzah kepada INILAH.COM, Jumat (3/7) di Jakarta.

Apa sebenarnya argumentasi Firmanzah, sehingga bisa pendapat seperti itu? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Bagaimana komentar Anda terhadap pola komunikasi politik duo Mallarangeng yang merasa tidak bersalah, bahkan terus melempar tuduhan ke pihak rival?
Duo Mallarangeng harus lebih dikontrol. Kalau tidak, akan merugikan SBY. Pernyataan Rizal tentang Indonesia Monitor dengan menyebutnya sebagai media comberan, itu kan tidak pantas. Okelah, bisa diperdebatkan, kalau apa yang ditulis memang tidak berimbang. Tapi janganlah menyebut media itu comberan. Alfian Mallarangeng yang menyebutkan orang Bugis tidak layak menjadi presiden, itu juga tidak perlu dinyatakan.
Belum lagi soal iklan pilpres satu putaran. Saya khawatir, kalau pun SBY benar-benar menang dalam satu putaran, maka lawan politik SBY akan beranggapan bahwa ini direkaysa untuk menang satu putaran. Meskipun tidak ada rekayasa misalnya, tetap saja tim sukses SBY menyewa konsultan dan membuat survei dan membuat opini publik untuk membuat satu putaran. Kalau tidak ada iklan itu, SBY menang satu putaran tidak ada masalah sebenarnya. Jadi sebenarnya ada manajemen tim kampanye nasional secara keseluruhan.

Kasus serupa sebenarnya telah terjadi saat Ruhut Sitompul dan Ahmad Mubarok bermanuver. Namun reaksi SBY langsung keras terhadap dua kadernya tersebut. Namun untuk kasus Mallarangeng ini, justru SBY diam seribu bahasa. Kenapa ini?
Saya tidak mau masuk dalam isu yang sifatnya spekulatif. Tapi saya rasa SBY sangat fokus pada debat capres dan kampanye. Nah, di SBY banyak relawan, ini juga terjadi saat Pilpres 2004. Memang saat ini berbeda dengan 2004. Kini SBY incumbent, maka SBY subjek untuk dikritik. Mungkin saat 2004 SBY orang baru, organic, dan belum berkuasa.
Dalam konteks Mallarangeng ini, saya melihat ini juga bentuk kepanikan tim SBY. Padahal, jika melihat elektabilitas SBY masih tertinggi, sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. SBY harusnya lebih hati-hati, karena isu tentang Mallarangeng cukup santer di publik. Misalnya, silakan saja Mallarangeng tetap ada, namun kewenangannya dikurangi. Nah ini kan partai koalisi SBY juga sudah resah, sudah lama gerah tentang Mallarangeng.

Sedemikian ekstremnyakah pernyataan Mallarangeng dengan menurunkan elektabilitas SBY dalam lima hari ke depan?
Apa pun itu akan menambah deretan kekecewaan. Misalnya, SBY menang satu putaran, kita juga tidak ingin seperti di Iran. Seperti kasus DPT yang belum clear, iklan pilpres satu putaran, kemudian juga persoalan rasialis yang diangkat. Nah, kondisi ini kalau dimanfaatkan oleh rival SBY akan berbahaya. Apalagi kalau dimunculkan di media massa. Ini jelas berbahaya bagi SBY. Sehingga elektabilitas SBY akan terpengaruh.

Apakah dengan menonaktifkan Mallarangeng akan membantu SBY dan mengurangi kekhawatiran masalah yang muncul pasca pilpres?
Saya rasa itu akan membantu SBY dan citra SBY sebagai orang yang santun dan tidak menyerang lawan politik itu akan kembali lagi. Semuanya berpeluang kepada SBY. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
4 Komentar
la banna @ Senin, 6 Juli 2009 | 13:19 WIB
ooooh gitu ya... kirain mallarangeng bersaudara sengaja spy elektabilitas SBY menurun, soalnya dia ma JK kan sekampung salah dong saya
graphix @ Minggu, 5 Juli 2009 | 22:39 WIB
kpada yth harry... klo sy ngak ada yang salah dengan 1 putaran, semuanya bisa menang dalam 1 putaran.... cuman yang ngak bisa diterima khususnya orang sulawesi selatan yang dominan orang bugis... adalah ucapan mallarangeng itu... "bukan saatnya orang bugis menjadi pemimpin"... koq anak raja ngomong gitu... memalukan... yang lucunya lagi SBY membela mallarangeng. gimana Indonesia mau damai klo presidennya gitu... lebih memilih seorang anak raja yang jelas2 salah dengan ucapannya... dibanding dengan sebagian rakyat dibagian timur indonesia... INGAT...!!! orang bugis bukan disulawesi selatan aja, tapi tersebar di seluruh indonesia... dan sebagian diluar indonesia...
PENGAMAT 70 @ Minggu, 5 Juli 2009 | 19:33 WIB
BUNG HARRI, ANDA MENGATAKAN PILIH PRESIDEN YANG SANTUN, SALEH, DAN ITU SBY?? BERAPA KALI TIM SUKSES SBY MENYAKITI HATI KAMI, KETURUNAN ARAB, BUGIS, PAKE NUDUH BLACK MAGIC LAGI. INIKAH KESANTUNAN YANG ANDA KATAKAN??? SEDANGKAN MEGA MAUPUN KALLA PERNAHKAH SEKASAR ITU, KALAUPUN MEGA-KALLA SERING MENGKRITIK PEMERINTAHAN SECARA TEGAS TAPI ITU TETAPLAH KRITIK, SEKERAS APAPUN KRITIK DIUCAPKAN TETAPLAH SEBUAH KRITIK. NAMUN SELEMBUT APAPUN HINAAN ITU DIUCAPKAN TETAPLAH ITU HINAAN YANG MENYAKITI HATI KAMI...... SALAM HORMAT SAUDARAKU HARRI....
HARRI @ Minggu, 5 Juli 2009 | 12:06 WIB
Sebaiknya Bung Firmanzah Baca dulu secara lengkap Orasinya Pak Andi M, Janagn seperti Pengamat lain yg partisan yang apa apa yg berasal dari Incumbent dianggap salah, anda kan Dekan FE UI, jangan Down grade dong almamater anda ? Seharusnya anda justru memberi pencerahan kepada pembaca supaya kalau baca sesuatu harus secara utuh, ndak bisa sepotong sepotong. Mari kita lihat saja Pilpres ini apakah berlangsung 1 putaran atau 2 putaran, Rasanya koq akan 1 putaran sebagaimana presiksi Survey terakhir KOMPAS, dan kalau itu terjadi,sebaiknya anda belajar juga psikologis massa yg lebih melihat Pemimpinnya benar benar bekerja untuk mereka, berantas KKN dan ndak suka menjelek jelekan orang lain dan punya keluarga Harmonis dan Soleh, Wassalam.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.