INILAH.COM, Jakarta - Direktur Pelaksana ECONIT Advisory Group, Hendri Saparini mengatakan, hutang Indonesia saat ini mencapai Rp1.700 triliun.
Jumlah tersebut meningkat sekitar Rp425 triliun lebih. "Utang kita saat ini sebanyak Rp1.700 triliun. Tentu ada peningkatan jika dibanding pemerintahan sebelumnya karena pada akhir pemerintahan lalu, utang Indonesia masih tercatat Rp1.275 triliun," katanya.
Artinya, fakta menunjukkan bahwa ada peningkatan hutang Indonesia selama empat tahun terakhir, tetapi pemerintah sendiri kemudian membangun argumentasi dengan diskusi tentang ratio utang.
"Utang ini oleh pemerintah diselewengkan dengan diskusi tentang ratio. Padahal selama ratio utang terhadap PDB itu menurun tidak ada masalah tetapi yang harus dipahami bahwa ini utang publik," ujarnya.
Mengenai klaim pemerintah yang telah membayar utang, dia mengatakan, pemerintah bisa membayar utang tetapi apa yang telah kita korbankan untuk membayar hutang itu jauh lebih besar.
"Ya, tahun ini kita bisa membayar utang Rp162 triliun tetapi apa yang kita korbankan untuk membayar utang itu. Kalau hutang ini kita gelembungkan terus, maka beban terhadap APBN semakin berat dan ruang bagi pemerintah untuk mengalokasikan anggaran untuk hal-hal yang strategis, kebutuhan dasar masyarakat juga semakin berkurang," kata Saparini.
Karena itu, sangat keliru jika pemerintah selalu berpandangan bahwa menciptakan utang adalah hal yang wajar dan biasa karena secara tidak langsung pemerintah sedang menciptakan kolonialisme baru bagi rakyat bangsa ini. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !