INILAH.COM, Jakarta - Pernyataan anggota timkamnas SBY-Boediono, Andi Alvian Mallarangeng bahwa orang Sulsel belum saatnya memimpin bangsa terus menuai kecaman. Andi dianggap keseleo lidah karena salah pergaulan dan penjilat SBY.
"Saya menduga apa yang dikatakannya itu hanya untuk menyenangkan SBY dan menjilatnya. Apa yang dinyatakan Andi sudah menyangkut satu suku dan bukan lagi sebuah bentuk kampanye yang dapat diterima. Dia sudah salah pergaulan. Masyarakat di manapun akan marah jika dikonotasikan sebagai masyarakat yang tidak pantas menjadi pemimpin," kata dosen antropologi Universitas Hasanudin, Makassar, Sulsel, Ansar Arifin kepada INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (4/7).
Ketika ditanyakan apakah memang demikian tipikal masyarakat Sulsel, Ansar mengatakan, tipe penjilat seperti ini bukanlah tipikal masyarakat Sulsel. Tipe seperti ini ada di mana saja dan bisa berasal dari suku mana saja.
"Perilaku menjilat bukan sifat dasar orang Bugis, apalagi sombong seperti itu. Tipikal masyarakat Sulsel itu malah tidak sombong dan bukan penjilat, serta gampang meminta maaf dan mengakui kesalahan. Ini tidak terlihat kan dari Andi Mallarangeng, karena dia tetap bertahan dengan pendiriannya yang salah itu," paparnya.
Menurut Ansar, pernyataan Andi itu sudah tendensius dan tidak layak dikatakan oleh seseorang yang memiliki jabatan seperti Andi yang juga menyandang status sebagai jubir kepresidenan di negara seperti Indonesia yang terdiri dari beragam macam suku.
JK, menurutnya, adalah sosok yang sangat pantas memimpin bangsa ini dengan pengalamannya yang terbukti handal. "Dia juga di Sulsel di kalangan para pengusaha dikenal sebagai tokoh yang dapat membalikkan paradigma bahwa pengusaha turunan kedua tidak akan dapat mempertahankan apa yang sudah dicapai dan dikembangkan oleh orang tuanya. JK justru mampu mengembangkan usaha yang ditinggalkan bapaknya, padahal yang lain malah membuat hancur usaha yang dirintis orang tua," ujarnya.
JK dalam mengembangkan usahanya terbukti juga bisa bekerja sama dengan bagian masyarakat Indonesia lainnya yang bekerja di perusahaannya. "Dia juga terbukti bisa mengorganisasikan perusahaan dan mempekerjakan orang-orang di luar suku Makassar misalnya. Selain itu orang Sulsel sendiri menurutnya bukan hanya JK yang memiliki potensi menjadi pemimpin nasional. Namun memang sayangnya kesempatan untuk mereka tampil tidak ada," pungkasnya. [ikl/sss]