INILAH.COM, Jakarta - Di saat cemohan datang kepada Andi Mallarangeng, pengamat politik UI Arbi Sanit mendukung pernyataan anggota Tim Kampanye SBY-Boediono bahwa orang Sulsel belum waktunya memimpin.
"Saya dukung Andi, karena dia menekankan tidak harus orang Sulawesi Selatan mendukung calon dari daerah itu," kata Arbi di Jakarta, Sabtu (4/7).
Jadi, lanjut Arbi, dia menolak mendukung salah satu capres berdasarkan kesukuan lebih baik nasional. Artinya siapa saja yang dianggap baik itulah yang dipilih.
"Akan tetapi orang lain menanggapi dari sisi kesukuan, ini yang menjadi persoalan," imbuhnya.
Padahal, Andi melihat dari persoalan pilihan dan kemenangan calon presiden itu dari sisi kebangsaan. Andi salah karena pendekatannya yang berbeda.
Menurut dia, hal itu tidak akan mempengaruhi elektabilitas (tingkat keterpilihan) pasangan SBY-Boediono di Sulawesi Selatan, karena pasangan tersebut di daerah itu rendah.
Ia mengatakan, bahwa kemenangan seorang presiden bukan hanya dipengaruhi oleh suku, banyak hal yang menjadi pertimbangan pemilih untuk menentukan pilihannya, diantaranya visi dan misi serta profesionalisme kerja.
Menurunannya elektabilitas SBY-Boediono sebesar empat persen dalam beberapa hari terakhir, dia mengatakan hal itu disebabkan olah kampanye.
"Jika kampanye selesai, mungkin tidak turun lagi. Karena kampanye dan suasana di kampanye itu mengakibatkan elektabilitas SBY turun," imbuhnya. [*/ana]