INILAH.COM, Jakarta Sentimen tingkat inflasi dan BI rate yang sesuai estimasi ternyata hanya mampu mengangkat saham sektor finansial sebesar 1,01%. Minimnya transaksi di lantai bursa serta aksi korporasi beberapa bank, memicu adanya penjualan saham sektor ini.
Di tengah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sepanjang pekan kemarin ditutup menguat 1,7%, saham sektor finansial hanya naik tipis 1,01%. Ini adalah kenaikan paling kecil dibanding sektor lain, seperti infrastruktur (+8,4%), konsumer (+4,3%), perdagangan (+1,5%), dan manufaktur (+1,1%).
Sentimen inflasi dan suku bunga acuan BI hanya mampu mengangkat saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 0,78% ke level Rp 6.450 dan Bank Internasional Indonesia (BNII) sebesar 1,3% ke Rp 390.
Meksipun PT Bank Central Asia (BBCA) dapat naik siginifikan 2,11% ke level 3.625, Bank Nasional Indonesia (BBNI) dan Bank Mandiri (BMRI) stagnan masing-masing di level Rp1730 dan Rp 3.250. Bahkan PT Bank Danamon (BDMN) justru terkoreksi (-2,69%) ke Rp 4.525.
Saham finansial tidak memberi respon signifikan akibat tipisnya transaksi akhir-akhir ini. Roland Haas, analis pasar modal dari HB Capital, menjelaskan hal ini disebabkan investor asing di pasar eksternal yang tengah memasuki masa liburan. Sedangkan investor lokal banyak yang sudah profit taking, sambil menanti pelaksanaan pilpres.
Bulan Juni, Juli, Agustus ini memang bursa bisanya sepi, karena banyak yang libur, kata Roland kepada INILAH.COM.
Menurut dia, saham BBRI dan BBCA mampu menguat didukung berita positif. Saham BBCA misalnya, terpantau menguat setelah pihak Farallon Capital Management LLC melepas 5% kepemilikan sahamnya di BCA.
Pada transaksi di BEI Rabu ini, Farallon melalui brokernya Credit Suisse Securities Indonesia, bahkan melakukan transaksi tutup sendiri (crossing) saham BBCA di pasar negosiasi sebanyak 3,99% senilai Rp 3,37 triliun di harga Rp 3.425 per saham.
Sedangkan saham BBRI mendapat sentimen positif setelah pihaknya menandatangani kontrak pembiayaan proyek 10 ribu mega watt di Lampung senilai Rp 2,7 triliun. Proyek pembiayaan dengan PLN ini merupakan komitmen baru pemberian kredit korporasi BBRI, selain komitmen kredit korporasi dengan Pertamina untuk menggenjot pembangunan bidang infrastruktur.
Kendati demikian, sentimen inflasi dan BI rate sempat dimanfaatkan pelaku pasar untuk transaksi jangka pendek. Sehari menjelang pengumuman inflasi, ketika bursa berakhir negatif akibat aksi profit taking investor, lantai bursa didominasi pelemahan. Termasuk, sektor perbankan yang merosot 0,81% ke level 243,66.
Saham BBRI terkoreksi 400 poin ke level 6.200 dan BMRI turun 75 poin ke level 3.175. Sedangkan saham BBCA masih stagnan setelah rontok sebesar 7,2% akhir pekan lalu.
Namun, pengumuman inflasi pada Rabu (1/7) yang sesuai ekspektasi, mendorong berbalik arahnya pergerakan bursa. Hampir semua sektor terpantau menguat, termasuk sektor finansial yang naik 2%.
Saham BBRI naik 50 poin ke level Rp 6.250, BBCA menguat 75 poin ke Rp 3.600, dan BMRI terangkat 75 poin ke angka Rp 3.250. Demikian juga BNII yang naik 5 poin ke level Rp 385 dan BBNI yang terdongkrak 20 poin ke Rp 1.740.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Juni MoM tercatat sebesar 0,11%, inflasi tahunan (year on year) mencapai 3,65% dan inflasi tahun kalender dari Januari-Juni 2009 sebesar 0,21%.
Norico Gaman, analis dari BNI Securities menuturkan, angka inflasi yang cukup terkendali, secara tahunan YoY di bawah 4%, disambut positif karena mengindikasikan bahwa BI akan menurunkan lagi tingkat bunganya dari posisi saat ini di level 7%.
Sementara itu, suku bunga Indonesia menjadi yang tertinggi di pasar global, memberi arah bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, karena pertumbuhan ekonomi dan suku bunganya tinggi.
Indonesia pun merupakan negara tujuan investasi yang menarik dan memberi ruang investor global untuk masuk, ujarnya.
Penguatan sektor finansial masih berlanjut pada Kamis (2/7) dengan naik 0.61% menjadi 248.25. Sektor finansial bahkan menjadi penopang bursa di zona positif, di tengah koreksi yang dialami bursa regional. Investor melakukan pembelian saham-saham sensitif suku bunga atas ekspektasi turunnya BI rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) keesokan harinya.
Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%. Keputusan yang sesuai estimasi pasar ini ditanggapi pasar dengan aksi ambil untung, terutama karena investor enggan berspekulasi di hari terakhir perdagangan saham.
Sektor finansial merosot 0.09% atau 248 poin dan menekan bursa. BBRI merosot 50 poin ke level Rp 6450, BBCA turun 100 poin ke angka 3625, dan BDMN melandai 50 poin ke posisi 4525. Hanya Bank Mandiri yang stagnan pada level 3250. Namun, ekspektasi bergairahnya kembali sektor riil serta penguatan saham infrastruktur, menahan kejatuhan bursa. IHSG pun berhasil ditutup naik tipis. [P1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !