inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Bendera PKS Akhirnya Nongol di GBK

Headline
Kampanye - inilah.com/Wirasatria
Oleh: Raden Trimutia Hatta
Sabtu, 4 Juli 2009 | 17:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Setelah sempat lama tak berkibar, akhirnya bendera PKS menghiasi kampanye akbar SBY-Boediono. Awalnya bendera PKS berwarna putih dengan lambang dua bulan sabit mengapit setangkai kapas itu tidak nongol di antara bendera parpol-parpol pendukung SBY-Boediono.

Kampanye akbar SBY-Boediono yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat sebagai kampanye penutup berlangsung stadion utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (4/7).

Semula baru bendera PPP, PAN, PPRN, dan relawan-relawan pendukung SBY-Boediono saja yang sudah dikibarkan kadernya masing-masing. Namun, belum satu pun bendera PKS yang dikibarkan. Bahkan sektor tempat duduk para kader PKS pun masih terlihat kosong. Hanya sektor tempat duduk kader PPP dan PAN yang sudah terlihat penuh.

Namun kemudian akhirnya sektor tempat duduk para kader PKS mulai terisi. Bendera-bendera PKS kemudian dikibarkan dan diayun-ayunkan saat suguhan tarian daerah dan ketika para artis berdendang.

Meski kampanye dimulai sekitar pukul 14.00 WIB, namun massa pendukung SBY-Boediono sudah berdatangan sejak pagi hari. Sementara SBY-Boediono baru menyampaikan orasinya sekitar pukul 17.00 WIB. [sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
8 Komentar
sun @ Kamis, 9 Juli 2009 | 05:20 WIB
yah, tapi realistis lah, klo dah salah apa mesti terus didukung??? ikutilah kata hatimu, karna disitu ada kebenaran.
PKS Undercover @ Minggu, 5 Juli 2009 | 10:34 WIB
@Muhamaad Susilo Resiko menjadi memang seperti itu mas, jadi kita harus berani bertanggung jawab atas sebuah pilihan yang telah kita ambil. Disini saya melihat solidaritas PKS beserta kader-kadernya, mereka mau menerima resiko apapun yang akan terjadi ketika mereka telah mengeluarkan satu keputusan. Disitu saya melihat sebuah kebersamaan yang memang benar-benar bermakna kebersamaan antara Pimpinan dengan yang dipimpin. Tetapi, saya sedikit kecewa dengan yang didukung oleh PKS karena saat ini sudah banyak kenyataan-kenyataan yang terjadi dilapangan, kenapa yang didukung oleh PKS tidak mau bertanggung jawab, tetapi malah berkelit untuk menghindari kenyataan karena telah melakukan sesuatu hal. Contohnya peristiwa di sulawesi, sampai sekarang salah seorang dari yang didukung oleh PKS tidak mau mengakui bahwa dia salah dan menerima akibat dari sebuah keputusan. Padahal semua elemen sudah menyatakan bahwa itu tidak baik. Belum lagi iklan satu putaran, pihak yang didukung oleh PKS tida mau mengaku bahwa itu adalah iklan mereka, padahal sebelumnya pihak pembuat iklan telah mendapatkan izin dari pihak yang didukung oleh PKS. Oleh karena itu, sudah saatnya orang-orang yang didukung oleh PKS untuk mencontoh apa yang telah dilakukan oleh PKS. Walaupun memang terasa berat bagi kita untuk jujur mengakui kesalahan kita, tapi itu justru lebih terhormat daripada kita mengelak namun akhirnya ketahuan juga. Untukmu kader-kader PKS, tetap berjuang untuk perbaikan ummat dan bangsa ini. Biarlah kritik menjadi pemicu semangat kalian, jangan pernah berhenti berjuang saudaraku. Allah SWT akan menjadi saksi bagi kalian dan Allah SWT lah yang akan menjadi tujuan kalian dan juga kita semua. Untuk semua penduduk bangsa ini, mari kita semua bersatu untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara kita. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan Megawati, Prabowo, SBY, Boediono, Jk, maupun Wiranto. Tapi, negeri ini membutuhkan kita semua untuk bangkit. Percayalah bahwa secerca harapan itu masih ada, kini saatnya kita buat Ibu pertiwi tersenyum bangga karena memiliki kita semua sebagai anak bangsa yang cinta dan peduli terhadap nasib bangsanya. MERDEKA!!!!
doblang @ Minggu, 5 Juli 2009 | 05:55 WIB
Innalillahi PKS. Demi syahwat kekuasaan para elit dan taqlid buta para kader kepada qiyadah kau gadaikan ummat yang memilihmu. Mungkin sudah saatnya ini adalah "sandyakalaning" PKS. Awal terbenamnya PKS menuju cakrawala, ketitik NOL. (Th. 1999-no.24, th.2004-no.16, th.2009-8, th.2014-no.0)
urang awak @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 20:46 WIB
Massa PKS mayoritas sholat dulu di sekitar GELORA jadi telat datang. Namun akhirnya dari 200 ribu massa, 100 ribu-nya adalah massa PKS (reporter Metro TV 16.45 lsg dari lokasi). Bagi yang selama ini ingin merusak shof-shof PKS mari introspeksi diri, marilah saling ingat-mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Lanjutkan!
saeful islam @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 20:42 WIB
Subhanalloh luar biasa, pks tetap solid sampai akar rumput, tidak terpecah seperti yang lain. Ayo PKS buktikan bahwa kamu tidak salah memilih. Lanjutkan!!
SyahrQ @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 20:11 WIB
Semoga kehadiran massa PKS tidak termasuk turut memeriahkan hari lahir AS.
muhammad susilo @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 19:55 WIB
saya sebagai pendukung PKS KECEWA dengan kputusan sembiring yg mendukung sby.. padahal mereka sudah dikhianati oleh sby dengan tidak mengambil salah satu diantara mereka sbg cawapres.. para petinggi memang haus kekuasaan.. bagaimana bisa PKS mendukung yg tidak berkualitas dan lamban.. MENGECEWAKAN!!
nursamsu @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 17:42 WIB
Luar Biasa orang-orang PKS ini, walaupun harapan mereka "dikhianati" dgn tdk dipilihnya HNW sebagai CAWAPRES tapi semangat/komitmen mereka thd Partainya (Majlis Syuro) tak terkalahkan. Bahkan menurut informasi dari GBK massa PKS mendominasi tempat duduk (di Lantai 2 hampir 100%). Sebuah Jama'ah yang siap MEMIMPIN dan siap DIPIMPIN. bravo PKS
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.