INILAH.COM, Pontianak - Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak Mohammad Aswandi mengecam tindakan kekerasan terhadap wartawan Harian Borneo Tribune Pontianak, Rizky Wahyuni, saat meliput kedatangan cawapres Boediono di Pontianak pada Jumat 3 Juli.
"Kita menolak tindakan kekerasan terhadap jurnalis seperti yang dialami oleh Rizki Wahyuni, dan mengecam tindakan arogan yang telah dilakukan oleh oknum anggota pengamanan Boediono," kata Aswandi di Pontianak, Sabtu (4/7).
Aswandi mengatakan, pihaknya meminta penyelesaian permasalahan itu menggunakan UU 40/1999 tentang Pers. Jurnalisme sebagai pilar keempat dalam negara demokrasi memiliki peran penting dalam proses demokrasi suatu negara. Selain memiliki fungsi memberikan informasi, mencerdaskan dan menghibur, pers juga memiliki peran sebagai watch dog (anjing penjaga). Fungsi ini membuat pers harus memiliki peran sebagai pengontrol kekuasaan.
"Kalau fungsi itu sudah dinodai oleh tindakan kekerasan dan arogansi dari orang-orang yang memiliki kekuasaan, itu menandakan kebebasan pers menjadi tercoreng. Pers yang baik akan menghasilkan masyarakat yang baik, begitu juga sebaliknya," kata Aswandi.
Rizky melapor ke Poltabes Pontianak setelah menjadi korban kekerasan saat meliput kedatangan Boediono. Rizky mengalami luka lebam di pipi kirinya. Menurut ia, aksi pemukulan oleh oknum anggota pengamanan Boediono terjadi saat ia hendak mewawancarai Boediono.
Kronologi kejadian, Boediono tiba di Hotel Kapuas Palace Pontianak sekitar pukul 10.30 WIB. Boediono langsung melakukan orasi politik di hadapan pendukungnya. Selesai berorasi pukul 11.30 WIB, Boediono dan rombongan melaksanakan salat Jumat di Masjid Mujahidin.
Setelah salat itu, wartawan berusaha mendekati Boediono yang dikawal petugas keamanan saat melintas di selasar masjid. Karena menurut jadwal Boediono akan melakukan kampanye serupa di Palembang sehingga waktu untuk konferensi pers di masjid tidak ada. Konferensi pers disarankan berlangsung di Bandara Supadio Pontianak.
"Tetapi kami tidak mau kecolongan lagi, dan khawatir di sana juga tidak bisa wawancara. Sehingga sambil berjalan berusaha mewawancarai Boediono," katanya. Boediono sempat beristirahat di Sekretariat Masjid terbesar di Kalbar itu. Saat itulah, wartawan diizinkan untuk melakukan wawancara. "Tetapi ternyata hanya perwakilan, ketika saya akan masuk, tidak diperbolehkan lagi," katanya.
Menurut dia, saat itulah terjadi saling dorong antara petugas keamanan dan wartawan yang mencoba masuk ruang sekretariat. "Tanpa saya sadari, ada seseorang memukul pipi kiri saya," ujarnya. Rizky mengakui, akibat pukulan itu, bagian kiri pipinya mengalami lebam. "Kepala saya terasa pusing sehabis dipukul," ujarnya. Hasil visum yang dilakukan Poltabes Pontianak akan keluar pada Senin 6 Juli. [*/sss]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !