Jumat, 25 Mei 2012 | 21:46 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah Cara Polisi Mesir Aniaya WNI
Oleh: Amri Umar
web - Minggu, 5 Juli 2009 | 08:12 WIB
INILAH.COM, Pekanbaru - Tindak biadab dilakukan polisi Mesir terhadap empat mahasiswa Indonesia asal Riau tanpa tuduhan yang tak jelas. Tindakan kekerasan ini berlangsung selama tiga hari di kantor polisi setempat. Bagaimana cara polisi Mesir menganiaya?

Sejauh ini, para mahasiswa tersebut sudah dibebaskan pihak kepolisian. Sebab, mereka tidak terbukti masuk dalam jaringan Hamas. Berikut pengakuan mahasiswa Al Azhar di Kairo, Mesir, Fathurrahman asal Riau kepada INILAH.COM, Minggu (4/7), melalui surat elektronik.

Satu jam setelah azan zuhur giliran saya di panggil keruangan interogasi, dengan mata tertutup. Baru saja masuk ruangan, kemaluan saya langsung disetrum. Penutup mata saya dibuka sedikit, saya dihadapkan ke meja di sana sudah terletak poster Ahmad Yasin.

Mereka bertanya, "Ini punya siapa?". Jawab saya, "Ini punya Ismail, dia sedang rihlah ke bukit Sinai." Seketika pantat saya disetrum beberapa kali.

Setelah itu baju saya dilepas paksa oleh salah satu polisi dan penutup mata saya diganti dengan baju tadi, saya diperintahkan melepaskan celana dan duduk di lantai dalam kondisi tanpa pakaian sehelaipun. Kaki dilonjorkan sedikit dan diikat oleh salah satu polisi. Masih dalam kondisi duduk, tangan saya ditarik ke belakang dan diikat dengan celana yang saya pakai dan saya diperintahkan berbaring dengan tangan terikat.

Tepat di paha kiri saya ditaruh sebuah kursi. Mata saya yang sudah ditutup memakai baju saya, kembali ditambah penutupnya dengan tangan salah satu polisi sehingga tangannya agak mengenai hidung. Beberapa kali saya menepis tangannya karena agak mempersusah proses pernapasan. Kembali pertanyaan pertanyaan dimulai.

Di mana kamu salat?
Di rumah. Seketika kepala kemaluan saya disetrum. Saya menjerit memecah kesunyian.

Apakah anda salat di awal waktu?
Kalau saya mood. Kembali buah pelir saya disetrum, saya berusaha menutupi kemaluan dengan tangan walaupun terikat. Seketika itu beberapa kali tangan kanan saya dihujani setruman.

Apakah anda selalu hadir di kuliah?
Saya kuliah kalau waktu ujian saja. Kembali buah pelir saya disetrum sampai beberapa kali pertanyaan yang tidak masuk akal dan sebanyak itu pula buah kemaluan saya disetrum.

Apakah kamu main bola bersama ikhwan?
Saya main bola dengan Habeep, Jaed, Kamal.

Mesir bukan?
Kembali sentruman ke paha kiri.

Apakah anda punya teman Mesir?
Saya jawab tidak, tapi polisi Mesir bilang saya berbohong. Lantas kembali sentruman ke paha kiri.

Apakah Anda kenal dengan Osama Bin Laden?
Saya jawab tidak. Kembali setruman ke perut kiri.

Bagaimana jihad sekarang?
Saya tidak tahu. Saya di Mesir ini cuma main bola, jalan-jalan, chating.

Kenapa tidak main bola sama orang Mesir?
Karena mereka mainnya bagus-bagus dan badan mereka besar-besar.

Anda Ikhwan al Muslimin?
Tidak. Pertanyaan sampai tiga lima dan saya jawab tidak. Begitulah setiap kali pertanyaan yang saya jawab dihadiahi setruman. [ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.