inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Asing Selalu Terlibat di Pilpres

Oleh:
Minggu, 5 Juli 2009 | 14:57 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Direktur Kajian Politik Center for Indonesian National Policy Studies (CINAPS), Guspiabri Sumowigeno mengatakan pilpres di Indonesia tidak pernah lepas dari keterlibatan asing. Dalam setiap pergantian pergantian kekuasaan pun, pihak asing selalu terlibat.

"Sejarah menunjukkan bahwa pihak asing selalu ingin memengaruhi politik Indonesia," kata Guspiabri, di Jakarta, Minggu (5/7).

Keterlibatan asing, kata dia, adalah konsekuensi logis bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara yang besar dalam dimensi wilayah. Sebab, memiliki letak yang strategis serta penduduknya yang besar dan kekayaan alam yang melimpah.

"Mustahil bila kekuatan-kekuatan dunia tidak ikut bermain dan mencoba memengaruhi hasil Pilpres 2009. Dengan tujuan memberikan kondisi yang kondusif bagi kepentingan strategis masing-masing dalam periode 2009-2014," ucap Guspriabi.

Dia mencontohkannya kekacauan situasi di Indonesia pada 1965-1966. Peristiwa itu, jelasnya, terjadi di puncak era Perang Dingin antara dua kutub dunia yang bersaing ketat. Dapat dipandang bahwa peristiwa itu adalah akibat berseberangannya agenda Amerika Serikat (AS) di satu sisi dan China di sisi lainnya.

Menurut dia, sekarang situasi itu terulang lagi. Terutama di bidang ekonomi. Posisi AS yang sejak pasca Perang Dunia II menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia melalui The Fed, kontinuitas pertumbuhan ekonomi dan konsumsinya yang besar sekarang dalam masalah berat.

Krisis AS juga menyeret enam negara anggota G-7 lainnya, kelompok pendukung posisi hegemoniknya. Yaitu, Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, Kanada, dan Italia yang bersama AS selama puluhan tahun telah menjadi pengendali pergerakan ekonomi dunia.

Namun, katanya, bukan berarti AS sudah menyerah karena sedang berusaha mempertahankan posisi hegemoniknya. Sementara China berupaya menjadi motor dari kelompok penantang yang berkumpul dalam konferensi ekonomi negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) dan konferensi kerjasama pertahanan Shanghai Cooperation Organization (SCO). [*/nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.