Senin, 28 Mei 2012 | 11:46 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Oleh:
web - Kamis, 1 Januari 1970 | WIB
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
20 Komentar
edi safari
Selasa, 14 Juli 2009 | 11:33 WIB
dukung SBY ambil mentri dari PKS, KARENA PENGAMATAN SAYA SEBAGAI ORANG AWWAM DAN NETRAL, HANYA MENTERI DARI PKS YG BEBAS KKN DAN MEMBANTU ORMAS-ORMAS ISLAM DALAM PROGRAMNYA, PESANTREN DAN UKM, JUGA ALEG-ALEG DI DPR/DPRD NYA JUGA BERSIH, JUGA PARA PENGURUS STUKTURNYA AKTIV MEMBINA MASYARAKAT DAN UMMAT, TAK HANYA BICARA. DULU SAYA CURIGA TAPI MEREKA BENAR2 IKHLASH DAN RAJIN IBADAH, "
hamzah
Jumat, 10 Juli 2009 | 16:30 WIB
maklum pak hidayat... selama ini bagi sebagian orang, dakwah itu adalah pidato di mimbar-mimbar. padahal dakwah itu kan harus turun ke berbagai bidang. lanjutkan teman2 PKS!
najib
Jumat, 10 Juli 2009 | 16:19 WIB
PKS dipilih rakyat agar menjadi pemimpin, "PKS BERSALAH" apabila tidak berusaha meminta/mengambil haknya menjadi menteri. Semoga Banyak Mentri dari PKS (12 menteri saya rasa cukup), rakyat hanya percaya kepada menteri dari PKS.
Gunawan Sugiarto
Jumat, 10 Juli 2009 | 15:20 WIB
Hidayat juga menagih janji SBY yang akan menjadikan Indonesia bermartabat dan mendukung kemerdekaan Palestina. Emangnya Bapak Ibunya HNW dari Palestina ya ? Dasar Ngak NAsionalis. Beresin negara dan kemiskinan kita dulu yang masih 50% itu baru urusin tuh palestina. Ngapain kita urusin Palestina, dimana harusnya negara2 islam kaya Raya tetangga dan sedarah Palestina seperti Saudi, UEA, QATAR, BAHRAIN, IRAN, IRAK, KUWAIT dll aja ngak fanatik kaya PKS
yudha
Kamis, 9 Juli 2009 | 20:00 WIB
rasanya kok berat ya...., kan PD akan mengisi dengan yang profesinal apalagi ini kan sistem presindentil. sabar saja kalau sudah menjadi besar dan mengusung calon sendiri.
jhons kins
Kamis, 9 Juli 2009 | 14:25 WIB
kita harus menghormati pks yang telah berjuang, dari pada orang - orang yang hanya mampu beri komentar- komentar miring, terhadap kesuksesan orang lain. mereka hanya diam tanpa berbuat apa - apa tapi kalau ada berita yang miring sikit menurut mereka, mereka yang paling bersuara lantang. banyak bertobatlah yee
Tofscorp
Kamis, 9 Juli 2009 | 11:38 WIB
wajar klo PKS minta jatah Mentri, sbb partai koalisi yg bnr2 solid m'bela SBY mmg cm PKS yg lain cm numpang nm doang bahkan kader2nya banyak yg mendukung calon lain! dr pd mentri diisi sm org2 yg gak amanah dan koruptor lbh baik diisi olh org2 PKS yg t'bukti ju2r! mmg ad ALEG PKS yg di tangkep polisi,gak adakan!mmg ad ALEG yg mengembalikan uang rakyat? gak adakan selain PKS! jd sharusnya qt tuh mendukung partai yg mmg masih bersih ky PKS buat memimpin bangsa ini! Insya Allah Indonesia Adil & Sejahtera
Al Fatih
Kamis, 9 Juli 2009 | 09:52 WIB
Wah nggak bener kalo PKS nggak ada peran dlm koalisi pilpres ini, di wilayah Palembang, semua TPS nya yang jadi saksi kader PKS, dan sebagian besar wilayah Sumsel yang jadi TPS adalah dari PKS lho, bukan sedikit lho TPS nya ratusan. Itu dari sisi Saksi belum yang lain. Yang lain apa ya, ah nggak tau deh. Tapi nggak bener kalo nggak ada peran. Kalo nanti nagih jadi menteri ya, wajar2 saja toh. Di kabinet kemarin juga terbukti orang2 yang menjadi menteri di PKS amanah dan berkualitas dan tidak KKN, wajar dong kalo ditambah.
Pengamat
Kamis, 9 Juli 2009 | 09:08 WIB
Ini Kabinet Presidential bung. Terbukti agenda PKS tdk populer spt halnya agenda taliban, hamas, &alqaeda.Di Saudi yg asalnya Islam saja agenda itu juga tdk populer. Kita adalah org Indonesia yg beragam Islam bukan org Islam yg tinggal di Indonesia.
hamba
Kamis, 9 Juli 2009 | 08:29 WIB
PKS itu salah satu partai politik di indonesia. yang sudah biasa membuat kontrak politik pada mitra politiknya, dan menagih kontrak politik pada mitra itu adalah hal yang wajar, demi rakyat Indonesia. Setiap melakukan kebaikan banyak rintangannya dan hujatan, mungkin bisa di lihat dari cerita lukman di bawah : Pada suatu hari Luqman Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor keledai, dan anaknya berjalan mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang pun berkata, ‘Lihat orang tua yang tidak berperasaan itu, dia enak-enakan menunggang keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki.” Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari keledainya lalu diletakkan anaknya di atas keledai. Kemudian mereka berjalankembali. Melihat yang demikian, maka orang-orang di pasar berkata, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu.” Begitu mendengar kata-kata itu, Luqman pun akhirnya menunggangi keledai bersama-sama anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, “Lihatlah, sungguh kejam mereka, dua orang menaiki seekor keledai, betapa tersiksanya keledai itu.” Oleh karena tidak suka mendengar perkataan orang-orang, maka Luqman dan anaknya turun dari keledai, akhirnya dituntunlah keledai itu dan mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Sungguh dungu mereka, dua orang berjalan kaki, sedangkan keledainya tidak dikendarai.” Dalam perjalanan pulang ke rumah, Luqman Hakim menasehati anaknya tentang sikap manusia dan ucapan mereka, katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas tingkah laku seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan dari Allah SWT saja. Barangsiapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam menjalani kehidupan.” . . . .
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.