INILAH.COM, Jakarta - IHSG baru sebentar menikmati euforia kemenangan capres SBY-Boediono pada pukul 10.00 WIB anjlok 18,42 poin (-0,84) di level 2.065,64 karena tekanan harga minyak anjlok di harga US$ 60 per barel.
Hal itu dikatakan analis saham dari Ciptadana Securities, Syaiful Adrian kepada IINILAH.COM, Kamis (9/7). "Pelemahan ini karena anjloknya harga minyak dunia ke US$ 60 per barel sehingga tidak dapat ditahan dengan sentimen positif kemenangan SBY dalam satu putaran," katanya.
Sentimen negatif dari minyak dunia ini merontokan semua sektor terutama komoditi utama yang selama ini menopang bursa. Sektor yang diharapkan dapat menahan pelemahan seperti perbankan dan infrastruktur ternyata mengikuti arah pelemahan IHSG.
Anjloknya harga minyak karena data pemerintah AS masih memiliki cadangan minyak dan pernyataan dari IMF kalau krisis ekonomi sudah terlewati tetapi proses pemulihannya akan berjalan lamban. "Proses pemulihan yang lamban ini menimbulkan sentimen negatif bagi pasar saham," jelasnya.
Pergerakan harga minyak dunia diperkirakan akan bergerak di US$ 55- 60 per barel. Jadi kecil kemungkinan berada di bawah US$ 55 per barel. Penurunan harga ini merupakan bagian dari aksi profit taking setelah pergerakan harga minyak dari US$ 30 per barel menuju US$ 73 per barel. Potensi ambil untung harga minyak ternyata saat ini direalisasikan yang melemahkan pasar saham dunia.
Beberapa saham yang melemah antara lain Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun 250 poin ke 11.300, Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun 250 poin ke 19.600, International Nickel Indonesia (INCO) turun 150 poin ke 3.900, PP London Sumatera (LSIP) turun 150 poin ke 5.700, Astra Agro Lestari (AALI) turun 150 poin ke 17.050. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !