INILAH.COM, Jakarta - Walaupun suku bunga BI rate terus turun, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak khawatir akan terjadi perebutan dalam penghimpunan dana antara pasar obligasi maupun saham.
Keoptimisan tersebut berhubungan dengan pencapaian target 15 emiten untuk melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering / IPO) yang dicanangkan BEI tahun ini.
"Kita masih optimis akan tercapai, sampai sekarang belum ada revisi target," ujar Direktur Penilai Perusahaan BEI Eddy Sugito, di Gedung BEI, Kamis (9/7).
Lebih lanjut Eddy menjelaskan pasca pilihan presiden (pilpres), keadaan ekonomi diharapkan lebih baik, didukung dengan likuiditas bank dalam memberi pinjaman. "Kita sudah sounding, sekarang tinggal tunggu realisasinya, memang sudah ada yang menyatakan minatnya (untuk IPO)," ujarnya.
Eddy menyatakan pihaknya tidak khawatir dengan 4 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikabarkan membatalkan rencananya untuk IPO tahun ini.
Sementara mengenai tren investasi obligasi yang saat ini lebih menarik dibanding saham, Eddy menegaskan bahwa kedua investasi tersebut memiliki pasarnya masing-masing. "Kalau obligasi itu berhubungan dengan suku bunga, nanti biar investor yang memutuskan mau investasi dimana. Obligasi atau saham sudah ada pasarnya masing-masing, saya pikir tidak akan ada perebutan pasar," pungkasnya.
Sebelumnya, tahun ini BEI menargetkan akan dapat menggiring 15 emiten untuk melantai di bursa. Namun hingga kini, baru tercapai sepertiganya. [mre/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !