INILAH.COM, Vienna - Harga minyak sedikit meningkat, namun masih di bawah level US$ 61 pada perdagangan Kamis (9/7). Para pedagang mulai mencari arah, usai mencatatkan penurunan harga minyak 17% sejak pekan lalu.
Meningkatnya jumlah cadangan gasolin di Amerika Serikat (AS) memperlihatkan permintaan minyak melemah, hal ini menimbulkan ekspektasi bahwa harga masih berpeluang turun.
Usai pulih dengan mencatatkan kenaikan lebih dari US$ 1 pada awal perdagangan, harga acuan minyak untuk kontrak Agustus naik 46 sen ke US$ 60,6 per barel pada New York Mercantile Exchange. Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (8/7), harga minyak turun lebih dari 4% atau US$ 2,79 ke US$ 60,14 per barel.
Kemarin (8/7), Departemen Energi AS mengumumkan jumlah cadangan gasolin meningkat dari 1,9 juta barel pada minggu lalu. "Itu bukan pertanda yang baik," ujar trader Hudson Capital Energy Singapura Clarence Chu.
Sentimen lainnya adalah proyeksi yang dikeluarkan organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) bahwa permintaan minyak akan turun tajam dan butuh waktu sekitar 4 tahun untuk dapat kembali ke posisi tahun 2008.
Pada perdagangan Nymex, harga gas alam naik lebih dari 5% menjadi US$ 3,41 per 1000 kaki kubik untuk kontrak Agustus dan gasolin naik nyaris 2 sen menjadi US$ 1,25 per galon untuk kontrak bulan Agustus.
Di London, harga Brent naik 66 sen menjadi US$ 61,09 per barel pada bursa ICE Futures. [mre/cms]