INILAH.COM, Jakarta Tekanan aksi profit taking investor pada pertengahan sesi akhir pekan ini masih cukup kuat sehingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah. Di tengah tipisnya transaksi, bursa masih menanti sentimen lain.
Pada perdagangan Jumat (10/7) sesi siang, IHSG melemah tipis 2,758 (0,13%) ke level 2.081,216, setelah menyentuh level tertinggi di 2.090,58. Indeks LQ 45 juga turun tipis 0,675 poin (0,17%) ke level 405,441.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi Rp 1,48 triliun dengan volume sebanyak 2,084 miliar dan frekuensi 35.749 kali. Sebanyak 64 saham menguat, 79 melemah, 68 stagnan, serta 251 saham tidak terjadi transaksi.
Saham aneka industri menyumbang pelemahan bursa terbesar dengan jatuh 1,95%, disusul infrastruktur turun 0,56%, perkebunan 0,22%, properti 0,18%, manufaktur dan perdagangan 0,1%, dan tambang 0,02%. Sedangkan saham industri dasar, konsumer dan finansial masih menghijau.
Muhammad Alfatih, analis BNI Securities memperkirakan IHSG hingga sore nanti akan bergerak melemah dipicu aksi profit taking investor. Pasalnya, indeks saat ini sedang berada pada level-level tinggi dalam setengah tahun terakhir.
Indeks akan bergerak melemah ke arah 2.060 hingga 2.035 dan untuk level resistan-nya berada pada kisaran 2.085 hingga 2.115, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (10/7).
Sebenarnya tidak terjadi penjualan saham secara massal mengingat pergerakan bursa yang tipis saat ini. Investor saat ini masih menunggu laporan-laporan keuangan semester pertama dari emiten-emiten.
Hal itu nantinya akan menjadi sentimen-sentimen lanjutan pada pergerakan indeks berikutnya selain faktor harga komoditas. Karena itu, pergerakan indeks sendiri masih berada pada kisaran sempit, tukasnya.
Ia memperkirakan sektor telekomunikasi dan gas akan menjadi penggerak turunnya indeks IHSG, sedangkan sektor konsumsi dan industri masih bertahan. Namun, ia menyarankan investor wait and see sambil menjaga risk management-nya. Karena itu, belum ada satu saham pun mendapatkan rekomendasi beli, ujarnya.
Sementara euforia pilpres dinilai tidak akan mampu menjadi penggerak indeks hari ini. Meskipun pilpres masih menuai keluhan terkait indikasi kecurangan pemilu, namun jika keluhan ini disampaikan sesuai prosedurnya, tidak negatif bagi pasar saham. Pasar menunggu apa yang terjadi sebenarnya dan bagaimana peserta pilpres menghadapi situasi itu, imbuhnya.
Di sisi lain, tim riset Indo Premier Securities memprediksikan IHSG pada akhir pekan ini berpotensi menguat terbatas, seiring harga minyak yang menguat tipis dan mengerek harga komoditas lain seperti batubara dan CPO.
Sementara euphoria kemenangan SBY juga dinilai masih mampu menahan sentimen negatif dari Wall Street, walaupun tidak signifikan. Kami melihat IHSG berpotensi bergerak dalam kisaran 2050-2100, katanya dalam riset yang dipublikasikan Jumat (10/7)
Harga kontrak minyak mentah Nymex bulan Agustus dinihari tadi ditutup naik 27 sen ke level US$ 60,41 per barel, setelah sempat anjlok ke level US$ 60 per barel. Sedangkan harga CPO di Malaysia menguat RM 40 (1,99%) menjadi RM 2.050 per ton dan harga batubara di Newcastle sebesar US$ 73,13 per ton.
Beberapa saham yang masih direkomendasikan berasal dari sektor komoditas seperti PT United Tractor (UNTR), PT Bukit Asam (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan PT Timah (TINS). Sedangkan dari sektor infrastruktur adalah PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Jasa Marga (JSMR) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).
Emiten-emiten yang mengalami penurunan siang ini antara lain PT Astra International (ASII) turun Rp 550 menjadi Rp 25.100, TLKM turun Rp 150 ke Rp 7.950, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 100 ke Rp 7.000, PT Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 400 ke Rp 19.050, PT United Tractor (UNTR) turun Rp 100 ke Rp 10.250.
Sedangkan emiten-emiten yang naik harganya antara lain PT Bukit Asam (PTBA) naik Rp 250 menjadi Rp 11.500, PT Bank Danamon (BDMN) naik Rp 125 ke Rp 4.625, PT Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 50 menjadi Rp 3.350, PT Indofood (INDF) naik Rp 50 menjadi Rp 1.890, dan PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 50 ke Rp 3.400. [E1]