INILAH.COM, Jakarta - Pemenang pilpres yang menang dalam satu putaran boleh bungah karena dukungan melimpah. Namun ada kecenderungan sang pemenang bertindak arogan dan malas bekerja.
"Kalau didapatkan dengan satu putaran dengan mudah, cenderung akan arogan. Yang paling bahaya adalah menjadi feodalisme," kata pengamat politik Sukardi Rinakit dalam diskusi Presiden Lanjutan di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (11/7).
Menurut Sukardi, arogansi itu dapat muncul karena pilpres satu putaran menguatkan legitimasi kekuasaan SBY-Boediono. Meski tidak dapat dipungkiri, hal itu menimbulkan kekecewaan bagi pasangan capres lain dan para aktivis.
Sukardi pun menjelaskan kekhawatirannya yang lain atas kemenangan satu putaran yang diraih SBY. Berdasarkan kultur politik Jawa, pemimpin yang terpilih untuk kedua kali juga berimplikasi negatif.
"Dalam politik Jawa, apabila pemimpin terpilih kedua kali dengan masa aman akan malas untuk bekerja. Kecenderungan ini tinggi," jelasnya.
Dia pun mengingatkan agar SBY-Boediono bekerja sepenuhnya dengan hati-hati karena bertanggung jawab pada rakyat yang mendukungnya. Untuk itu, SBY harus memilih anggota kabinet yang kapabel.
"SBY itu sudah 60 tahun, dia juga doktor, harusnya tidak ada yang ditakuti kecuali rakyat. Jadi sebaiknya segera menyusun kabinet yang baik," imbau Sukardi. [fiq/ana]